Survei PTC: Kepadatan dan Ulah Penumpang Jadi Keluhan Utama Transportasi Umum Singapura
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 87% pengguna menyatakan puas dengan transportasi umum Singapura, namun kepadatan dan ketidakpastian jadwal bus masih menjadi sorotan.
- Perilaku tidak peduli sesama penumpang, seperti memutar audio tanpa headset, serta AC lemah di kereta juga masuk dalam daftar keluhan utama.
- PTC mendorong pengguna untuk lebih berempati dan berencana meningkatkan frekuensi kereta serta efisiensi naik bus guna mengurangi antrean.

Meski tingkat kepuasan pengguna terhadap sistem transportasi umum Singapura mencapai 87 persen, survei terbaru dari Public Transport Council (PTC) mengungkapkan sejumlah keluhan yang masih mengganjal, mulai dari kepadatan di jam sibuk hingga perilaku penumpang yang kurang peduli.
Survei Kepuasan Pelanggan Transportasi Umum 2025 yang melibatkan 5.505 responden menunjukkan bahwa ketidakpastian waktu kedatangan bus dan kesulitan naik ke kendaraan yang penuh menjadi masalah paling utama. Banyak pengguna mengeluhkan bus yang datang secara beruntun atau justru dengan jeda panjang, terutama di rute yang minim alternatif.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan jumlah pengemudi bus. PTC mengakui bahwa rekrutmen dan retensi pengemudi menjadi tantangan besar yang memengaruhi keandalan layanan, terutama saat terjadi kemacetan atau ketidakhadiran mendadak. Operator pun telah menaikkan gaji awal dan memberikan insentif untuk menarik lebih banyak pengemudi lokal.
Untuk mengurai kepadatan, PTC berencana mengkaji peningkatan frekuensi kereta, penambahan gerbong, serta optimalisasi sistem naik bus, termasuk kemungkinan penerapan pintu belakang untuk naik di titik-titik yang aman. Selain itu, layar digital di peron stasiun sibuk akan diuji coba untuk mengarahkan penumpang ke gerbong yang lebih longgar.
Masalah lain yang menonjol adalah perilaku penumpang yang dianggap kurang peduli. Banyak pengguna melaporkan kebiasaan memutar musik atau video tanpa alat dengar, serta keengganan memberikan kursi prioritas kepada yang lebih membutuhkan. PTC telah menggagas gerakan Caring SG Commuters untuk membangun budaya saling peduli, dan tidak menutup kemungkinan akan ada tindakan penegakan terhadap pelanggaran berat yang merugikan pengguna lain.
Ketua PTC Janet Ang menekankan bahwa solusi atas berbagai keluhan ini membutuhkan keseimbangan antara kepentingan pengguna, operator, dan publik. "Meski instansi dan operator terus meningkatkan infrastruktur, setiap pengguna juga punya peran melalui kepedulian dan kesopanan," ujarnya.
Soal suhu di dalam kereta, banyak penumpang mengeluhkan pendingin udara yang terasa lemah, terutama di jalur tertentu pada jam sibuk. PTC mencatat suhu kereta diatur sekitar 25 derajat Celsius, tetapi persepsi bisa berbeda tergantung waktu, jenis jalur (elevasi atau bawah tanah), dan jumlah penumpang. Perubahan iklim yang lebih hangat dalam beberapa tahun terakhir juga disebut turut memengaruhi sensitivitas penumpang terhadap suhu di dalam kabin.
Sebagai langkah perbaikan, kereta baru di jalur Utara-Selatan dan Timur-Barat yang memiliki kapasitas pendingin lebih tinggi sedang diperkenalkan secara bertahap, dengan target penggantian seluruh kereta lama selesai pada 2026. PTC juga akan mengevaluasi perawatan sistem AC pada armada lama untuk meningkatkan kenyamanan.
Ke depan, PTC berencana memperkuat aplikasi perencanaan perjalanan agar pengguna bisa membuat keputusan yang lebih tepat, serta terus mendorong partisipasi dalam gerakan Caring SG Commuters. Pertanyaan yang tersisa: apakah langkah-langkah ini cukup untuk mengubah kebiasaan dan mengurangi keluhan di tengah meningkatnya jumlah pengguna transportasi umum?



