Bentrokan Adonara Mereda: Tiga Tewas, Puluhan Rumah Ludes, Polisi Perketat Patroli
Baca dalam 60 detik
- Bentrokan antarwarga di Adonara Timur, Flores Timur, menewaskan tiga orang dan membakar 20 rumah, dipicu sengketa tanah ulayat.
- Polisi dan TNI mengerahkan ratusan personel, termasuk Brimob dan tim penjinak bom, untuk mengamankan lokasi dan mencegah eskalasi.
- Situasi kini kondusif dengan aktivitas warga kembali normal, namun aparat masih berpatroli rutin untuk menjaga stabilitas.

Tiga orang tewas, tujuh luka-luka, dan 20 rumah hangus terbakar—itulah dampak bentrokan berdarah yang pecah antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/7) pagi. Kini, aparat kepolisian dan TNI mengklaim situasi telah terkendali, namun kewaspadaan tetap dijaga ketat.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, menyatakan bahwa aktivitas masyarakat sudah kembali normal dan roda perekonomian mulai berputar. "Sekarang sudah kondusif, di lapangan masyarakat sudah bisa beraktivitas," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (20/7). Namun, ia mengakui bahwa proses evakuasi jenazah sempat terhambat oleh ratusan massa yang memadati jalan raya. Negosiasi dengan tokoh setempat akhirnya membuahkan hasil, sehingga jenazah Hope (60), warga Narasaosina yang diduga tewas akibat bacokan, berhasil dievakuasi.
Bentrokan yang dipicu sengketa tanah ulayat dan batas wilayah ini menyisakan trauma mendalam. Selain korban jiwa, puluhan rumah hangus dibakar massa dalam amuk yang berlangsung sekitar pukul 06.30 Wita. Polisi kini fokus pada penyelidikan untuk mengungkap pelaku pembunuhan dan pembakaran, serta memastikan mereka yang terlibat mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.
Untuk mencegah bentrokan susulan, aparat gabungan TNI dan Polri telah mendirikan tiga pos pengamanan di titik-titik strategis: Pos Desa Narasaosina, Pos Waiburak, dan Pos Susteran. Personel yang dikerahkan meliputi anggota Polres Flores Timur, Polsek Adonara Timur, Kodim 1624, Koramil setempat, serta Brimob dari Kompi 4 Batalyon B Maumere dan Satuan Brimob Polda NTT. Bahkan, tim penjinak bom (Jibom) Gegana Brimob turut diterjunkan sebagai langkah antisipasi. Patroli rutin dan penyisiran terus dilakukan di wilayah kedua desa yang berkonflik.
Kepolisian mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri dan bersama-sama menjaga situasi yang telah kondusif. "Kami masih fokus menjaga kondusifitas yang sudah tercipta demi kepentingan masyarakat umum," tegas Adhitya. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah pengamanan ini cukup untuk meredam akar konflik yang sudah mengakar, atau hanya solusi sementara yang menunggu ledakan berikutnya?



