Sonam Wangchuk di ICU: 26 Hari Mogok Makan, 11 Kg Hilang, tapi Pantang Menyerah
Baca dalam 60 detik
- Aktivis pendidikan Sonam Wangchuk kehilangan 11 kg setelah 26 hari mogok makan, kini dirawat di ICU Medanta Hospital.
- Ribuan mahasiswa tetap bertahan di Jantar Mantar meski aparat membubarkan paksa dan menutup 16 stasiun metro Delhi.
- Pemerintah India di bawah tekanan: Perdana Menteri Modi janjikan pengadilan cepat untuk bocornya ujian negara.

Aktivis pendidikan asal India, Sonam Wangchuk, menjalani perawatan intensif di Medanta Hospital, Gurugram, setelah 26 hari menjalani mogok makan. Dalam kondisi kritis, ia kehilangan 11 kilogram bobot tubuhnya, namun tetap menyatakan dirinya "masih hidup". Aksi ini merupakan bagian dari gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang menuntut reformasi pendidikan dan pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan.
Wangchuk, yang akrab disapa "Sonam sir", menjadi ikon perlawanan mahasiswa. Sejak 21 hari pertama mogok, ia bertahan hanya dengan garam dan air di bawah terik matahari Delhi. Pada Sabtu lalu, ia dipindahkan secara paksa dari lokasi protes di Jantar Mantar ke rumah sakit, namun tetap melanjutkan puasanya. Pemerintah, melalui Menteri Kesehatan JP Nadda, telah memintanya menghentikan aksi, tetapi Wangchuk menolak kecuali ada jaminan bahwa mahasiswa tidak akan mendapat tindakan balasan dari aparat.
Dalam pernyataan video dari ranjang rumah sakit, Wangchuk menegaskan bahwa ia akan mengakhiri mogok jika pemerintah memberikan jaminan tertulis. "Jika saya menerima jaminan itu segera, saya akan mengakhiri mogok hari ini. Jika tidak, saya terpaksa melanjutkan," ujarnya. Ia juga memuji pengendalian diri mahasiswa yang tidak membalas saat dibubarkan paksa dengan pentungan pada Senin lalu.
Ketegangan mencapai puncak pada Senin ketika puluhan ribu mahasiswa berbaris menuju parlemen. Bentrok dengan polisi mengakibatkan sedikitnya 60 demonstran dan 118 aparat luka-luka. Polisi menangkap 70 orang, namun sebagian besar telah dibebaskan dengan jaminan. Otoritas juga menutup 16 stasiun metro di pusat Delhi, yang diduga untuk menghalangi akses ke Jantar Mantar. Meski panggung dan tenda protes dibongkar, para demonstran tetap bertahan dengan duduk terus-menerus di bawah penjagaan ketat.
Gerakan CJP sendiri lahir dari sindiran Ketua Mahkamah Agung India yang menyebut pengangguran muda yang beralih ke jurnalisme dan aktivisme sebagai "kecoak". Meski bukan partai politik terdaftar, CJP berhasil menggerakkan puluhan ribu orang ke jalan. Tuntutan utama mereka adalah pengunduran diri Menteri Pradhan yang dinilai gagal mencegah kebocoran soal ujian nasional, termasuk ujian masuk kedokteran. Pradhan sendiri belum memberikan pernyataan resmi.
Perdana Menteri Narendra Modi, yang selama ini bungkam, akhirnya bereaksi melalui unggahan di X pada Kamis pagi. Ia menyatakan akan membentuk pengadilan cepat untuk menghukum pelaku kebocoran soal. "Tidak ada yang lebih penting daripada kesejahteraan dan masa depan pemuda kita," tulisnya. Namun, langkah ini dinilai sebagai upaya meredam kemarahan publik tanpa mengakomodasi tuntutan pengunduran diri menteri.
Bagi Indonesia, aksi Wangchuk dan CJP menjadi pengingat bahwa gerakan mahasiswa bisa menjadi kekuatan politik yang signifikan ketika sistem pendidikan dianggap gagal. Di Indonesia, isu kebocoran soal ujian juga pernah memicu protes, meski tidak separah di India. Pertanyaan besarnya: apakah pemerintah India mampu memulihkan kepercayaan publik tanpa mengorbankan tuntutan inti para demonstran?



