Musim Hujan Berakhir di Tokyo, Suhu Tembus 35 Derajat Celsius: Peringatan Heatstroke Dikeluarkan
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Jepang mengumumkan berakhirnya musim hujan di Tokyo dan Nagoya, lebih dari tiga pekan lebih lambat dari tahun lalu.
- Lebih dari 600 titik observasi mencatat suhu di atas 30 derajat Celsius, memicu peringatan dini heatstroke di sebagian besar wilayah Jepang.
- Keterlambatan musim hujan ini menjadi perhatian bagi Indonesia karena pola cuaca ekstrem serupa berpotensi terjadi di kawasan Asia Tenggara.

Tokyo mencatat hari terpanas tahun ini setelah Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengumumkan berakhirnya musim hujan di wilayah Kanto-Koshin dan Tokai, termasuk Tokyo dan Nagoya, pada Senin (20/7). Suhu di ibu kota Jepang itu mencapai 35 derajat Celsius, menandai pertama kalinya tahun ini suhu menembus level "sangat panas" yang memicu peringatan heatstroke massal.
Pengumuman itu disampaikan di tengah libur akhir pekan panjang, ketika sebagian besar wilayah Jepang berada dalam status siaga terhadap sengatan panas. JMA mencatat lebih dari 600 dari 914 titik observasi di seluruh negeri mencatat suhu 30 derajat Celsius atau lebih pada Senin pagi. Kondisi ini mendorong otoritas setempat untuk mengeluarkan imbauan agar warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memperbanyak minum air.
Yang menarik, musim hujan tahun ini berakhir sekitar 22 hari lebih lambat dari tahun lalu di wilayah Kanto-Koshin, dan 23 hari lebih lambat di Tokai. Sebelumnya, wilayah Kyushu di barat daya Jepang telah lebih dulu menyatakan musim hujan berakhir pada 13 Juli. Keterlambatan ini menunjukkan anomali cuaca yang semakin lazim terjadi di kawasan Asia Timur.
Bagi Indonesia, pola cuaca ekstrem seperti ini relevan mengingat posisi geografis yang sama-sama dipengaruhi oleh sirkulasi monsun. Keterlambatan musim hujan di Jepang bisa menjadi indikasi perubahan dinamika atmosfer yang lebih luas, yang berpotensi memengaruhi awal musim kemarau di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa fenomena El Niรฑo dapat memperpanjang musim kemarau di beberapa wilayah Indonesia, sehingga kewaspadaan terhadap gelombang panas dan kekeringan perlu ditingkatkan.
Menurut analis cuaca dari Universitas Tokyo, pergeseran musim hujan yang signifikan seperti ini semakin sering terjadi seiring pemanasan global. "Kami memperkirakan suhu tinggi akan terus berlanjut di Jepang barat dan timur selama pekan ini," ujar seorang juru bicara JMA, seperti dikutip Kyodo. Kondisi ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga sektor pertanian dan pasokan air bersih.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pola keterlambatan musim hujan ini akan menjadi tren baru di Asia Timur, dan bagaimana negara-negara tetangga seperti Indonesia dapat mengantisipasi dampak ikutan dari perubahan sirkulasi monsun tersebut. Dengan prediksi suhu ekstrem yang masih akan berlangsung, koordinasi regional dalam sistem peringatan dini cuaca ekstrem menjadi semakin mendesak.



