Fleetwood Gagal di Open, Mimpi Claret Jug Belum Padam
Baca dalam 60 detik
- Tommy Fleetwood finis tujuh di bawah par di Royal Birkdale, tertinggal tiga pukulan dari juara Ryan Fox.
- Tiga bogey beruntun di hole 9-11 menghancurkan peluangnya menjadi juara Inggris pertama sejak Nick Faldo 1992.
- Pegolf 35 tahun itu akan kembali berburu gelar di St Andrews tahun depan, dengan tiga venue Open dekat kampung halamannya.

Tommy Fleetwood harus mengubur mimpinya meraih Claret Jug untuk kali ini setelah tiga bogey beruntun di putaran final The Open di Royal Birkdale, Minggu (23/7). Meski finis di posisi keempat bersama Scottie Scheffler, pegolf Inggris itu menegaskan ambisinya belum padam.
Memulai putaran final dengan defisit lima pukulan dari pemimpin Sam Burns, Fleetwood tampil agresif di delapan hole pertama. Birdie dari jarak 75 kaki di hole pertama disusul dua birdie tambahan di hole kelima dan kedelapan membawanya ke posisi delapan di bawah par, hanya satu pukulan di belakang pimpinan. Namun, semuanya runtuh saat ia mencatat bogey di hole kesembilan setelah pukulan approach yang terlalu agresif, lalu dua bogey berikutnya di hole 10 dan 11.
"Itu adalah kesalahan yang tidak boleh terjadi," aku Fleetwood seusai pertandingan. "Saya berdiri di tengah fairway hole sembilan dalam posisi bagus, tapi saya memukul bola ke tempat yang tidak seharusnya. Angin kencang memang menjadi tantangan, tapi itu murni kesalahan saya."
Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi Fleetwood yang berharap menjadi orang Inggris pertama sejak Nick Faldo pada 1992 yang mengangkat Claret Jug. Dukungan luar biasa dari publik tuan rumah di Royal Birkdaleโyang terletak di Southport, tak jauh dari kampung halamannya di Southportโmembuat momen itu semakin emosional. "Berjalan di fairway 18 sangat mengharukan. Atmosfernya di luar dugaan saya. Penonton membuat pekan ini menjadi yang paling istimewa," ujarnya.
Bagi penggemar golf di Indonesia, kegagalan Fleetwood menjadi pengingat betapa tipisnya margin antara kemenangan dan kekalahan di level tertinggi. Meski tidak ada pegolf Indonesia yang berlaga di The Open tahun ini, turnamen ini tetap menjadi barometer bagi perkembangan golf Tanah Air. Federasi Golf Indonesia (PGI) terus mendorong regenerasi atlet, dan momen seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang manajemen tekanan di lapangan.
Fleetwood kini mengalihkan pandangan ke masa depan. The Open tahun depan akan digelar di St Andrews, Old Course, yang merupakan salah satu venue paling ikonik. Setelah itu, Open akan kembali ke Inggris barat laut di Royal Lytham & St Annes pada 2028. "Saya sangat beruntung memiliki tiga venue Open yang dekat dengan rumah. Orang biasanya tidak punya kesempatan seperti ini. Saya sudah tidak sabar," katanya.
Dengan usia 35 tahun, Fleetwood masih memiliki beberapa tahun emas untuk mengejar gelar mayor pertamanya. Namun, persaingan semakin ketat dengan munculnya nama-nama seperti Scottie Scheffler, Rory McIlroy, dan juara baru Ryan Fox. Akankah Fleetwood akhirnya memecahkan kebuntuan Inggris di St Andrews tahun depan? Ataukah mimpi itu akan terus tertunda?



