KM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar: 18 Penumpang Masih Hilang, 1 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Kapal KM Nurul Salsa yang membawa 78 orang tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Sulawesi Selatan, akibat gangguan mesin.
- Hingga kini, 59 penumpang berhasil diselamatkan, satu ditemukan meninggal, dan 18 lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.
- Insiden ini kembali menyoroti lemahnya keselamatan pelayaran di jalur antar-pulau Indonesia, terutama pada kapal-kapal kecil yang kerap beroperasi tanpa pengawasan ketat.

Kecelakaan laut kembali terjadi di perairan Sulawesi Selatan. KM Nurul Salsa, kapal penumpang yang berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar, tenggelam pada Rabu (15/7) pagi setelah mengalami gangguan mesin. Dari total 78 orang yang berada di atas kapal, 59 penumpang berhasil diselamatkan, satu orang ditemukan meninggal dunia, dan 18 lainnya masih dalam pencarian hingga saat ini.
Kapal berangkat sekitar pukul 05.00 WITA dengan rute yang biasa dilayari warga setempat. Namun, di tengah perjalanan, mesin kapal tiba-tiba mati, menyebabkan kapal oleng dan akhirnya tenggelam di posisi perairan barat Pulau Polassi, sekitar 43 nautical mile dari Pelabuhan Benteng Selayar. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan setempat langsung dikerahkan untuk melakukan pencarian.
Daftar nama penumpang yang dirilis oleh Basarnas Sulawesi Selatan menunjukkan beragam usia, mulai dari balita hingga lansia berusia 80 tahun. Di antara yang selamat terdapat nama-nama seperti Fildayanti (21), Abrar (5), dan H. Bahri (70). Sementara itu, korban meninggal dunia belum diidentifikasi secara resmi. Sebanyak 18 orang yang masih hilang termasuk di antaranya Cia (19), Bau Intang (50), dan Umar (80). Proses pencarian terus dilakukan dengan melibatkan perahu karet dan penyelam, meski cuaca di lokasi kejadian dilaporkan kurang bersahabat.
Kecelakaan ini menjadi pengingat akan rentannya keselamatan transportasi laut di Indonesia, khususnya di wilayah timur yang sangat bergantung pada kapal-kapal kecil antar-pulau. Banyak kapal yang beroperasi tanpa memenuhi standar keselamatan minimum, seperti ketersediaan pelampung dan prosedur darurat. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat memperketat pengawasan serta memberikan sanksi tegas bagi operator yang lalai. Hingga berita ini diturunkan, tim SAR masih berupaya maksimal untuk menemukan para korban yang belum ditemukan.
Ke depan, insiden ini memunculkan pertanyaan besar: akankah ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pelayaran di Indonesia, atau justru akan terulang kembali tragedi serupa? Publik menanti langkah konkret dari otoritas terkait untuk memastikan setiap jiwa yang melaut mendapatkan perlindungan yang layak.



