Koma Dikira Mati, Hampir Dikremasi: Perempuan China Kini Jadi Pelukis Ternama
Baca dalam 60 detik
- Chen Cuiju, 49, selamat dari koma yang salah dikira meninggal pada 1995 dan nyaris dikremasi, lalu bangkit menjadi pelukis kelas satu nasional.
- Seorang petugas kremasi mendeteksi gerakan kakinya, menyelamatkannya dari kematian; rumah sakit menanggung biaya perawatan tanpa identitas.
- Kisahnya menginspirasi adaptasi opera Kanton dan menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini serta dukungan sosial bagi pekerja migran.

Seorang perempuan asal Provinsi Guizhou, China, yang nyaris dikremasi dalam keadaan koma pada 1995, berhasil membangun kembali hidupnya sebagai pelukis tradisional yang diakui secara nasional. Chen Cuiju, kini 49 tahun, selamat dari insiden yang bermula dari kelelahan ekstrem dan malnutrisi saat bekerja di pabrik di Dongguan, Guangdong.
Pada Juli 1995, Chen pingsan di tepi sungai karena demam dan ditemukan oleh seorang tukang perahu. Karena tidak memiliki dokumen identitas, ia disangka jenazah tak dikenal dan dibawa ke rumah duka. Saat petugas kremasi bernama He hendak memulai prosesi, ia melihat sedikit gerakan di kaki Chen. He segera melapor ke polisi dan membawanya ke rumah sakit.
Dokter mendiagnosis Chen menderita malnutrisi berat, dehidrasi, dan kegagalan multi-organ. Meski tanpa identitas, uang, atau keluarga, rumah sakit tetap merawatnya dan menanggung biaya pengobatan. Setelah lebih dari tiga bulan perawatan intensif, Chen sadar dan pulih, lalu dipertemukan kembali dengan keluarganya melalui bantuan otoritas setempat.
Kisah "kembali dari kematian" ini menarik perhatian nasional. Banyak orang mengirim surat dukungan, termasuk pelukis Chen Zhonglian yang menawari Chen Cuiju belajar melukis di Jinhua, Zhejiang, dengan biaya hidup dan pendidikan ditanggung. Chen Zhonglian, yang saat itu menjadi guru seni, mengatakan, "Jika ia memiliki keterampilan dan tahu cara menghidupi diri, mungkin tragedi seperti ini bisa dihindari."
Pada 1996, Chen Cuiju pindah ke Jinhua bersama adik laki-lakinya dan tinggal di studio Chen Zhonglian. Awalnya ia bergumul dengan rasa rendah diri karena stigma "pembawa sial". Namun, sang guru mendorongnya untuk bersosialisasi dan mengikuti kompetisi. Pada 1999, Chen memenangkan penghargaan melukis pertamanya dan mulai dikenal di dunia seni China. Ia kemudian mengkhususkan diri dalam lukisan tradisional China.
Pada Juni 2006, Chen kembali ke Dongguan untuk berterima kasih kepada staf rumah duka dan rumah sakit yang menyelamatkannya. Ia mempersembahkan lukisan peoni mekar di samping ranting layu, simbol ketahanan dan kelahiran kembali. Karya-karyanya telah memenangkan puluhan penghargaan di pameran nasional dan internasional, dan beberapa dikoleksi oleh institusi seni. Chen diakui sebagai seniman kelas satu nasional dalam lukisan tradisional China.
Kisahnya diadaptasi ke dalam opera Kanton berjudul "Cai Ju Returns Home" untuk menginspirasi generasi muda menghadapi kesulitan. Chen tidak memberikan komentar publik tentang adaptasi tersebut. Pada Juli lalu, kisahnya kembali viral di media sosial China. Seorang warganet berkomentar, "Penemuan petugas kremasi dan belas kasih staf rumah sakit memperpanjang hidupnya, yang merupakan keajaiban. Chen kemudian menciptakan keajaiban lain melalui tekad dan kerja kerasnya."
Bagi Indonesia, kisah Chen menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini terhadap kondisi koma dan perlindungan pekerja migran. Banyak pekerja Indonesia di luar negeri menghadapi kondisi serupa: kelelahan, malnutrisi, dan minim akses dokumen. Kasus ini mendorong diskusi tentang perlunya prosedur identifikasi yang lebih ketat di rumah duka serta jaminan kesehatan bagi pekerja informal. Ke depan, mampukah sistem kesehatan dan perlindungan sosial di Indonesia mencegah tragedi serupa?



