Katak Mungil Penghuni Serasah Merapi Dinyatakan sebagai Spesies Baru
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti dari BRIN dan universitas menemukan Philautus candrageni, spesies katak semak baru di lereng Gunung Merapi, melalui pendekatan morfologi, bioakustik, dan genetik.
- Spesies ini hanya ditemukan di perkebunan kopi pada ketinggian menengah Merapi, dengan suara kawin berupa 'klik' pendek bernada tinggi yang membedakannya dari kerabatnya.
- Penemuan ini menyoroti ancaman hilangnya habitat dan perubahan iklim yang membahayakan katak semak Jawa, termasuk dua spesies yang sudah dinyatakan hilang.

Seekor katak mungil seukuran dua ruas jempol orang dewasa, dengan kulit halus dan panggilan bernada tinggi hanya sekejap, resmi diakui sebagai spesies baru penghuni serasah Gunung Merapi. Temuan ini tidak hanya memperkaya daftar amfibi Jawa, tetapi juga menjadi pengingat akan kerentanan keanekaragaman hayati di tengah tekanan alih fungsi lahan dan krisis iklim.
Tim peneliti yang terdiri dari sembilan ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sejumlah universitas, dan Herpetological Society of Indonesia secara tidak sengaja menemukan spesies ini saat melakukan revisi taksonomi katak genus Philautus di Jawa. Mereka mengumpulkan 32 individu yang sebelumnya diidentifikasi sebagai Philautus aurifasciatus dari kawasan Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Pegunungan Menoreh antara 2017 hingga 2025. Melalui analisis morfologi, bioakustik, dan molekuler, satu kelompok dari Gunung Merapi terbukti memiliki ciri unik yang tidak cocok dengan spesies manapun.
“Kami menggunakan nama kuno Gunung Merapi, Candrageni, sebagai nama spesiesnya,” tulis Alamsyah Elang Nusa Herlambang, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, dalam publikasi di jurnal Zootaxa edisi Maret 2026. Nama Candrageni diambil dari manuskrip Jawa klasik Serat Pustaka Raja Purwa karya R. Ng. Ranggawarsita, yang merujuk pada nama awal Merapi sebelum diganti oleh Prabu Kusumawicitra. Perpaduan kata “Candra” (bulan) dan “Gen” (api) melambangkan keseimbangan energi surgawi dan vulkanik—harmoni biokultural yang menurut peneliti tercermin dalam keberadaan katak ini di lanskap vulkanik.
Spesies baru ini memiliki ciri khas pada suara kawinnya. Berbeda dengan kerabatnya yang cenderung “cerewet” dengan rangkaian nada berulang, P. candrageni hanya mengeluarkan satu nada pendek berfrekuensi tinggi, terdengar seperti bunyi “klik” atau “chirp” dengan tempo cepat. Ciri akustik ini menjadi salah satu kunci identifikasi di habitat aslinya. Namun, peneliti mengakui deskripsi spesies belum lengkap karena belum berhasil menangkap individu betina. Padahal, betina sering memiliki ukuran lebih besar dan pola warna berbeda, sehingga data morfologi yang ada baru mewakili setengah dari populasi.
Penemuan ini sekaligus mengungkap kondisi memprihatinkan katak semak di Jawa. Dari empat spesies Philautus yang kini tercatat di Pulau Jawa, dua di antaranya—P. pallidipes dan P. jacobsoni—sudah dianggap hilang karena hanya dikenal dari spesimen museum. Bahkan P. jacobsoni mungkin telah punah di alam liar akibat tidak adanya pengamatan baru. Ancaman utama adalah degradasi hutan akibat konversi lahan untuk pertanian, perkebunan, permukiman, dan infrastruktur. Krisis iklim dengan perubahan suhu dan pola curah hujan juga mengancam siklus reproduksi katak semak yang sangat bergantung pada kelembapan tinggi.
Katak semak memiliki keunikan dalam reproduksi: sebagian besar spesies mengalami perkembangan langsung, telur menetas menjadi katak kecil tanpa melalui fase berudu. Adaptasi ini membuat mereka tidak bergantung pada genangan air, namun justru membuat mereka rentan terhadap perubahan kelembapan udara. “Jika ancaman ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin spesies katak semak punah sebelum kita benar-benar mengenalinya,” tulis para peneliti dalam laporannya.
Bagi Indonesia, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif dalam taksonomi untuk mengungkap biodiversitas yang tersembunyi. Di tengah laju deforestasi yang masih tinggi, setiap spesies baru yang ditemukan bisa menjadi alat ukur kesehatan ekosistem sekaligus dasar bagi upaya konservasi. Pertanyaan besarnya, akankah Philautus candrageni bernasib sama seperti kerabatnya yang hilang, atau justru menjadi ikon baru konservasi di kawasan Gunung Merapi?



