Sukses 25 Tahun: Jepang Pulihkan Dua Spesies Burung Langka dari Ambang Kepunahan
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Lingkungan Jepang menyatakan program konservasi dua spesies burung endemik Amami-Oshima berhasil dituntaskan, yang pertama di Jepang.
- Populasi Amami woodcock melonjak dari 4.100 ekor (2007) menjadi 17.000 ekor (2021) berkat eradikasi luwak invasif dan perluasan taman nasional.
- Keberhasilan ini menjadi model bagi target pemerintah Jepang untuk menyelesaikan lima program serupa pada 2030, sekaligus memberi pelajaran bagi konservasi di Indonesia.

Kementerian Lingkungan Jepang mengumumkan keberhasilan penuh program perlindungan dan pengembangbiakan dua spesies burung langka di Pulau Amami-Oshima, Prefektur Kagoshima—sebuah pencapaian pertama dalam sejarah konservasi negara itu. Setelah lebih dari seperempat abad upaya intensif, populasi burung yang sempat terancam punah kini menunjukkan pemulihan signifikan, membuktikan bahwa intervensi terencana dapat membalikkan tren kepunahan.
Dua spesies yang menjadi sorotan adalah Amami woodcock (burung berkik) yang menghuni Amami-Oshima dan Tokunoshima, serta Amami thrush (burung anis) yang hanya ditemukan di Amami-Oshima. Keduanya sebelumnya masuk kategori "Terancam" dalam Daftar Merah Kementerian Lingkungan Jepang akibat predasi spesies invasif, deforestasi, dan faktor lainnya. Namun, dalam revisi Maret 2026, status keduanya diturunkan menjadi "Hampir Terancam".
Program yang dirintis sejak 1999 oleh Badan Lingkungan saat itu mencakup pemberantasan luwak (mongoose) invasif yang memangsa telur dan anakan burung, serta penetapan kawasan taman nasional di sebagian Kepulauan Amami. Puncaknya, pada 2024 Jepang mendeklarasikan eradikasi total luwak di Amami-Oshima. Hasilnya, estimasi populasi Amami woodcock di tiga pulau melonjak dari sekitar 4.100 ekor pada 2007 menjadi 17.000 ekor pada 2021. Sementara itu, Amami thrush juga menunjukkan perluasan wilayah jelajah dan tren peningkatan populasi.
Nobuo Ishii, profesor emeritus di Tokyo Woman's Christian University yang memimpin panel pakar nasional, menyatakan dalam konferensi pers 30 Juni bahwa pencapaian ini membuktikan pemulihan dari status terancam mungkin dilakukan jika langkah tepat diambil. "Di saat keanekaragaman hayati global dan Jepang mengalami penurunan tajam, ini menjadi contoh nyata," ujarnya. Pernyataan itu menggarisbawahi pentingnya konsistensi kebijakan dan pendanaan jangka panjang dalam konservasi.
Bagi Indonesia, keberhasilan Jepang menawarkan pelajaran berharga. Indonesia memiliki banyak spesies endemik yang terancam oleh spesies invasif dan alih fungsi lahan, seperti burung cenderawasih, jalak bali, dan aneka primata. Program serupa—kombinasi eradikasi invasif, perlindungan habitat, dan pemantauan populasi—dapat diadopsi dengan penyesuaian konteks lokal. Namun, tantangan utama di Indonesia adalah koordinasi lintas sektor dan penegakan hukum yang lemah, berbeda dengan Jepang yang memiliki sistem birokrasi dan pendanaan konsisten.
Pemerintah Jepang, melalui Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional, menargetkan peningkatan jumlah spesies dengan program konservasi tuntas menjadi sekitar lima spesies pada 2030. Keberhasilan Amami-Oshima menjadi batu loncatan untuk mempercepat pencapaian target tersebut. Pertanyaan selanjutnya: mampukah negara-negara tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi, seperti Indonesia, meniru kesuksesan ini di tengah tekanan ekonomi dan politik yang lebih kompleks?



