Kanibalisme dalam Rahim: Strategi Reproduksi Ekstrem Hiu Harimau Pasir yang Mengancam Kelestariannya
Baca dalam 60 detik
- Embrio hiu harimau pasir yang tumbuh lebih cepat akan memakan saudara-saudaranya di dalam rahim, sebuah fenomena kanibalisme intrauterin yang unik.
- Strategi ini memastikan hanya dua anak yang lahir, masing-masing dari satu rahim, dengan ukuran besar dan siap bertahan hidup.
- Reproduksi yang lambat dan sedikit anak membuat spesies ini sangat rentan, populasinya telah menurun lebih dari 80% dan berstatus kritis.

Di dalam rahim hiu harimau pasir, pertarungan hidup dan mati dimulai jauh sebelum kelahiran. Embrio yang lebih cepat berkembang akan menyerang dan melahap saudara-saudaranya sendiri, sebuah kanibalisme intrauterin yang hanya diketahui pada spesies ini. Fenomena ini bukan sekadar keunikan biologis, tetapi juga kunci memahami kerentanan spesies yang kini terancam punah.
Hiu harimau pasir (Carcharias taurus) memiliki dua rahim terpisah. Pada awal kehamilan, setiap rahim dapat berisi beberapa embrio dari telur yang dibuahi pada waktu berbeda. Embrio yang pertama menetas mendapatkan keunggulan: gigi dan rahangnya berkembang lebih cepat, memungkinkannya bergerak dan menyerang embrio lain yang masih kecil. Begitu mencapai ukuran sekitar 10 sentimeter, embrio dominan ini mulai membunuh dan memakan satu per satu saudaranyaโproses yang disebut adelphophagy. Setelah hanya tersisa satu embrio di setiap rahim, ia kemudian melanjutkan pertumbuhan dengan memakan telur-telur yang tidak dibuahi (oophagy) yang dipasok induknya sepanjang masa kehamilan.
Strategi reproduksi ekstrem ini menghasilkan anak yang sangat siap bertahan hidup, namun jumlahnya sangat sedikit. Kombinasi antara jumlah anak yang minim, masa kehamilan panjang, dan jeda reproduksi yang lama menjadikan hiu harimau pasir sebagai salah satu spesies hiu dengan laju reproduksi paling lambat. Usia matang seksual juga terlambat: jantan pada 6โ7 tahun, betina pada 9โ10 tahun. Akibatnya, tekanan dari penangkapan ikan dan kerusakan habitat pesisir sangat sulit dipulihkan.
Penelitian dari Stony Brook University yang diterbitkan di jurnal Biology Letters mengungkap dimensi lain dari kanibalisme ini. Dengan menganalisis DNA dari induk dan embrio, tim peneliti menemukan bahwa semakin tua usia kehamilan, semakin besar kemungkinan embrio yang tersisa berasal dari satu ayah. Artinya, kanibalisme intrauterin tidak hanya soal persaingan makanan, tetapi juga menjadi mekanisme seleksi genetik. Pejantan yang berhasil membuahi telur yang lebih cepat berkembang akan mewariskan gennya, sementara gen pejantan lain tersingkir. "Persaingan untuk mewariskan gen tidak berhenti begitu perkawinan selesai, melainkan terus berlanjut di dalam tubuh betina," jelas peneliti Chapman.
Bagi Indonesia, yang memiliki perairan kaya hiu, temuan ini relevan dalam konteks konservasi. Hiu harimau pasir termasuk dalam daftar spesies yang dilindungi di beberapa negara, namun tekanan penangkapan masih tinggi. Status kritisnya mengingatkan bahwa tanpa pengelolaan ketat, spesies dengan reproduksi lambat seperti ini bisa punah dalam waktu singkat. Pertanyaannya, apakah upaya perlindungan habitat pesisir dan pengendalian tangkapan sampingan di Indonesia sudah cukup untuk menyelamatkan spesies ini?



