Gerakan 'Kecoa' India: Ribuan Mahasiswa Kepung Parlemen Tuntut Menteri Mundur
Baca dalam 60 detik
- Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang digerakkan mahasiswa menggelar aksi besar di New Delhi menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan menyusul kebocoran soal ujian masuk kedokteran yang merugikan 2 juta peserta.
- Aksi ini menjadi ujian terbesar bagi Perdana Menteri Narendra Modi di periode ketiganya, dengan dukungan 22 juta pengikut Instagram dan simpati dari partai oposisi.
- Pengamat menilai protes ini mencerminkan krisis kepercayaan generasi muda India terhadap sistem pendidikan dan lapangan kerja, dengan tingkat pengangguran usia 15-29 mencapai 9,9%.

Ribuan pendukung gerakan Cockroach Janta Party (CJP) memadati kawasan Jantar Mantar di pusat New Delhi pada Senin (20/7) dalam upaya berbaris menuju gedung parlemen, meskipun polisi telah melarang aksi tersebut. Mereka menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kebocoran soal ujian masuk perguruan tinggi kedokteran yang memicu kemarahan luas.
Gerakan yang baru berusia beberapa bulan ini disebut sebagai tantangan publik terbesar yang dihadapi Perdana Menteri Narendra Modi sejak memulai masa jabatan ketiganya. Dukungan terhadap CJP meledak di media sosial—akun Instagram mereka meraih 22 juta pengikut dalam hitungan hari—dan kini mulai menjalar ke aksi jalanan. Beberapa partai oposisi pun menyatakan solidaritas.
Pemicu langsung gerakan ini adalah bocornya soal ujian nasional masuk sekolah kedokteran pada Mei lalu. Lebih dari 2 juta siswa terpaksa mengikuti ujian ulang, memicu kekecewaan mendalam. “Semua pemimpin yang berkuasa itu buta huruf. Saya di sini karena kami tidak ingin soal ujian bocor lagi,” ujar Adi Nathan, mahasiswa 21 tahun dari Meerut, kepada media setempat. Mohammed Tabrez, peserta ujian asal Amroha, menambahkan, “Kami ingin korupsi ini berakhir.”
Ketegangan meningkat setelah aparat secara paksa membawa aktivis Sonam Wangchuk—yang melakukan mogok makan tanpa batas waktu—ke rumah sakit pada Sabtu lalu. Ribuan pendukung CJP berdatangan semalaman ke lokasi protes, sementara polisi dan paramiliter memasang barikade di sekitar parlemen. Situasi ini memicu kekhawatiran akan bentrokan jika demonstran memaksa melanjutkan pawai.
Dalam catatan tulisan tangan dari rumah sakit yang diunggah di akun X-nya, Wangchuk menyatakan akan mengakhiri mogok makannya jika pemerintah bertanggung jawab atas kegagalan sistem pendidikan dan kebocoran soal, atau jika pengunjuk rasa diizinkan mencapai parlemen dan anggota dewan berjanji membahas isu tersebut. Ia juga bersedia berhenti jika para pemimpin partai menemuinya di rumah sakit dan memberikan jaminan serupa.
Para analis menilai kebangkitan CJP merefleksikan frustrasi generasi muda India terhadap dua masalah struktural: pengangguran tinggi di kalangan usia produktif dan kebocoran soal ujian yang berulang. Data pemerintah menunjukkan angka pengangguran nasional untuk usia 15 tahun ke atas hanya 3,1%, namun pada kelompok usia 15-29 tahun melonjak menjadi 9,9%—dan di perkotaan mencapai 13,6%, jauh di atas pedesaan yang 8,3%.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat betapa rentannya sistem pendidikan nasional terhadap kebocoran soal dan bagaimana hal itu bisa memicu krisis kepercayaan politik. Meskipun skala dan konteks berbeda, kasus India menunjukkan bahwa kegagalan tata kelola ujian dapat dengan cepat berubah menjadi gerakan massa yang menuntut perubahan hingga ke tingkat kabinet. Pemerintah Indonesia perlu mencermati hal ini, terutama dalam menghadapi pelaksanaan ujian nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi yang kerap diwarnai kecurangan.
Pertanyaan besarnya kini: akankah pemerintah Modi merespons tuntutan pengunjuk rasa dengan langkah konkret, atau justru memperkuat represi? Dengan parlemen India memasuki masa sidang musim hujan, tekanan terhadap Menteri Pradhan dan Perdana Menteri Modi diprediksi akan terus meningkat. Gerakan kecoa—yang namanya diambil dari serangga yang sulit dibasmi—tampaknya belum akan lenyap dalam waktu dekat.



