Bentrok Berdarah di Adonara: Sengketa Batas Wilayah Warisan Sejarah Tewaskan Tiga Orang
Baca dalam 60 detik
- Bentrokan antarwarga di Adonara Timur, NTT, dipicu sengketa batas desa yang sudah berlangsung turun-temurun, mengakibatkan tiga tewas dan 20 rumah dibakar.
- Polres Flores Timur menekankan penyelesaian konflik tidak cukup dengan hukum, melainkan harus mengedepankan kearifan lokal dan pendekatan adat.
- Aparat mengimbau masyarakat tidak terprovokasi hoaks di media sosial dan mengutamakan dialog untuk meredakan ketegangan.

Tiga nyawa melayang dan 20 rumah ludes terbakar dalam bentrokan antarwarga di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/7) pagi. Konflik berdarah ini dipicu oleh sengketa batas wilayah yang telah mengakar puluhan tahun antara Dusun Bele, Desa Waiburak, dan Dusun Lewonara, Desa Narasaosina.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, mengungkapkan bahwa pertikaian tersebut bukanlah peristiwa mendadak. "Ini konflik laten yang memiliki akar sejarah panjang terkait batas wilayah," ujarnya, Minggu (19/7) malam. Menurutnya, persoalan batas desa di Adonara kerap menjadi pemicu ketegangan karena menyangkut identitas dan hak ulayat yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain korban jiwa, bentrokan yang melibatkan dua kelompok pemuda itu juga menyebabkan tujuh orang luka-luka. Massa yang terlibat saling serang dengan senjata tajam dan membakar rumah-rumah warga. Suasana mencekam sempat melanda wilayah tersebut sebelum aparat gabungan TNI-Polri berhasil mengendalikan situasi.
Adhitya menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan hukum pidana. "Kami mengedepankan pendekatan humanis dan kearifan lokal. Nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur harus menjadi landasan utama untuk meredam konflik," jelasnya. Ia berharap para tokoh adat, agama, dan pemuda dapat bersinergi dengan aparat penegak hukum untuk mencari solusi yang berkelanjutan.
Kapolres juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial. "Jangan mudah terpengaruh isu yang dapat memperkeruh keadaan. Mari utamakan dialog, saling menghormati, dan hidupkan kembali semangat persaudaraan yang telah menjadi identitas masyarakat Flores Timur," imbaunya.
Konflik batas wilayah di NTT bukanlah hal baru. Pulau Adonara sendiri dikenal memiliki sejarah panjang perselisihan antar desa yang kerap diselesaikan melalui mekanisme adat. Namun, eskalasi kekerasan kali ini menunjukkan bahwa pendekatan tradisional perlu diperkuat dengan mediasi yang lebih sistematis dari pemerintah daerah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aparat dan tokoh adat mampu merumuskan kembali batas wilayah yang disepakati bersama, atau justru konflik ini akan menjadi siklus kekerasan yang terus berulang. Tanpa penyelesaian yang tuntas, ketegangan serupa bisa saja meletus lagi kapan saja.



