Konflik Hormuz Meredupkan Pasokan: Harga Minyak Tembus US$90 Lagi
Baca dalam 60 detik
- Eskalasi militer AS-Iran di Selat Hormuz mendorong harga minyak Brent ke US$90,31 per barel, tertinggi dalam sebulan.
- Aktivitas pelayaran di jalur vital itu menyusut drastis, hanya empat kapal melintas pada Minggu, meningkatkan risiko gangguan pasokan global.
- Analis Barclays memperingatkan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan tekanan pada stok minyak yang sudah berada di level terketat dalam lima tahun.

Harga minyak mentah dunia kembali meroket pada awal pekan ini, dengan Brent menembus level psikologis US$90 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu bulan. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer di Selat Hormuz—jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak global—setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan serta blokade laut.
Berdasarkan data Refinitiv pada Senin (20/7/2026) pagi, harga minyak Brent tercatat di US$90,31 per barel, naik 2,51% dari posisi akhir pekan lalu di US$88,10. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,25% ke US$84,35 per barel. Dalam sepekan terakhir, Brent telah melesat 15,9% dan WTI 15,5%—kenaikan mingguan terbesar sejak April dan awal Maret.
Pemicu utama reli ini adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama sembilan malam berturut-turut. Washington mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam akan menindak kapal-kapal yang melanggar aturan pelayaran di Selat Hormuz. Kuwait dan Bahrain juga melaporkan serangan baru dari Iran, memperluas cakupan ketegangan di kawasan Teluk.
Dampaknya langsung terasa pada lalu lintas kapal tanker. Pada Minggu, hanya empat kapal yang melintasi Selat Hormuz, turun dari delapan kapal sehari sebelumnya. Sejak Jumat, hanya tiga kapal tanker produk minyak dan satu Very Large Crude Carrier (VLCC) yang tercatat memasuki kawasan itu untuk memuat minyak. Badan pemantau pelayaran Inggris (UKMTO) bahkan melaporkan adanya kapal terbakar di barat laut Kumzar, Oman, dekat pintu masuk selat.
Analis Barclays, Amarpreet Singh, menilai beberapa hari hingga pekan ke depan akan menjadi periode krusial untuk mengukur sejauh mana ekspor minyak dari kawasan itu bisa bertahan di tengah blokade dua arah. Menurut Barclays, pasar minyak belum sepenuhnya memperhitungkan potensi tekanan terhadap pasokan. “Kondisi stok saat ini berada pada level paling ketat dalam lima tahun terakhir. Gangguan pasokan dari Timur Tengah berpeluang memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan fase awal konflik,” ujarnya.
Konteks Indonesia: Lonjakan harga minyak ini berpotensi membebani anggaran subsidi energi Indonesia, yang tahun ini mengalokasikan triliunan rupiah untuk BBM dan LPG. Jika harga minyak bertahan di atas US$90 per barel, beban subsidi bisa membengkak, memicu tekanan pada APBN. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas energi juga berisiko mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Pemerintah perlu mengantisipasi dengan kebijakan fiskal yang hati-hati, termasuk kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi atau pengalihan subsidi.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah blokade laut AS-Iran akan berlanjut atau mereda. Jika ketegangan semakin memanas dan Selat Hormuz benar-benar lumpuh, harga minyak bisa meroket lebih tinggi lagi, mengingat cadangan global yang sudah tipis. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi gelombang kenaikan harga energi yang mungkin berlangsung lebih lama dari perkiraan?



