Efisiensi Radikal dan Inovasi: WMPP Balikkan Rugi Rp71,85 Miliar Jadi Laba Rp130 Miliar
Baca dalam 60 detik
- PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) mencatat laba bersih Rp130 miliar pada kuartal I-2026, membalikkan rugi Rp71,85 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.
- Strategi efisiensi 'radikal' dan inovasi menjadi kunci di tengah tekanan biaya produksi dan pelemahan daya beli masyarakat.
- WMPP optimistis prospek bisnis protein hewani nasional, didorong kebutuhan pangan domestik yang terus meningkat.

PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP), perusahaan agribisnis terintegrasi yang fokus pada peternakan sapi dan unggas, berhasil membalikkan kerugian menjadi laba bersih Rp130 miliar pada kuartal I-2026. Capaian ini kontras dengan periode yang sama tahun sebelumnya, saat perseroan masih mencatat rugi Rp71,85 miliar.
Pencapaian tersebut diraih di tengah tekanan berat industri peternakan nasional. Lonjakan biaya produksi—terutama pakan ternak dan energi—serta melambatnya daya beli masyarakat menjadi dua tantangan utama yang dihadapi WMPP. Founder & CEO WMPP, Tumiyana, mengungkapkan bahwa perseroan menerapkan efisiensi 'radikal' di seluruh lini operasional. Langkah ini meliputi optimalisasi rantai pasok, pengelolaan limbah ternak menjadi sumber energi alternatif, serta digitalisasi manajemen peternakan untuk menekan biaya tenaga kerja.
Menurut Tumiyana, inovasi juga menjadi pilar penting. WMPP mengembangkan pakan alternatif berbasis bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor jagung dan bungkil kedelai yang harganya fluktuatif. Selain itu, perseroan mulai menerapkan sistem peternakan presisi (precision farming) yang memungkinkan pemantauan kesehatan ternak secara real-time, sehingga menekan angka kematian dan meningkatkan produktivitas. “Kami tidak hanya memangkas biaya, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui teknologi,” ujar Tumiyana dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Konteks domestik menjadi relevan mengingat Indonesia masih mengimpor sekitar 30% kebutuhan daging sapi dan 15% daging ayam. Peningkatan produksi dalam negeri seperti yang dilakukan WMPP dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus menstabilkan harga pangan. Pemerintah pun tengah mendorong program swasembada protein hewani melalui berbagai insentif, termasuk kredit usaha rakyat (KUR) dan kemudahan perizinan bagi peternak skala besar.
Meski optimistis, Tumiyana mengakui bahwa tekanan biaya produksi belum sepenuhnya mereda. Harga pakan masih bertahan tinggi akibat cuaca ekstrem di negara pemasok utama, sementara daya beli masyarakat diperkirakan baru pulih pada semester kedua 2026. WMPP pun terus memantau perkembangan permintaan dan kesiapan pasokan. “Kami harus tetap waspada. Namun, dengan fondasi efisiensi yang sudah dibangun, kami yakin bisa mempertahankan profitabilitas,” tegasnya.
Ke depan, WMPP berencana memperluas kapasitas peternakan unggas di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang Idul Fitri 2027. Pertanyaannya, apakah strategi efisiensi radikal ini cukup untuk menghadapi ketidakpastian harga komoditas global? Ataukah WMPP perlu mencari terobosan baru, seperti ekspor produk olahan daging ke pasar ASEAN? Jawabannya akan menentukan apakah perusahaan ini bisa mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah industri yang masih penuh tantangan.



