Prajogo Pangestu Siapkan Akuisisi Raksasa Panas Bumi Filipina Senilai Rp90 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Barito Renewables milik Prajogo Pangestu dikabarkan mengajukan tawaran akuisisi terhadap EDC, penguasa pembangkit panas bumi Filipina, dengan nilai mencapai US$5 miliar.
- Langkah ini menjadi sinyal ekspansi agresif konglomerat Indonesia di sektor energi hijau Asia Tenggara, sekaligus memperkuat posisi Barito di rantai pasok energi terbarukan.
- Jika terealisasi, akuisisi ini berpotensi mengubah peta persaingan bisnis panas bumi regional dan membuka peluang transfer teknologi bagi pengembangan geothermal di Indonesia.

Miliarder Indonesia Prajogo Pangestu kembali menunjukkan ambisinya di panggung energi global. Melalui Barito Renewables Energy, perusahaan yang ia kendalikan, Prajogo dikabarkan telah melayangkan penawaran awal untuk mengakuisisi Energy Development Corporation (EDC), perusahaan panas bumi terbesar di Filipina. Nilai transaksi yang diperkirakan mencapai US$5 miliar—setara Rp90 triliun dengan kurs Rp18.000 per dolar AS—menjadikannya salah satu langkah ekspansi paling berani di kawasan Asia Tenggara.
Penawaran yang bersifat indikatif dan tidak mengikat ini masih berada pada tahap awal. First Gen Corporation, pemegang saham utama EDC yang berbasis di Manila, menyatakan bahwa belum ada pembicaraan formal maupun perjanjian yang ditandatangani. Perusahaan yang dikuasai oleh keluarga taipan Federico Lopez itu juga menegaskan belum menunjuk penasihat keuangan untuk transaksi tersebut. Dengan kata lain, proses ini masih panjang dan penuh ketidakpastian.
EDC bukanlah pemain sembarangan. Perusahaan yang sebelumnya dimiliki negara Filipina sebelum diakuisisi Grup Lopez pada 2007 ini mengoperasikan 16 pembangkit listrik panas bumi di seluruh Filipina dengan total kapasitas terpasang 1.300 megawatt (MW). Selain itu, EDC juga memiliki portofolio energi terbarukan lain—hampir 300 MW dari tenaga air, surya, dan angin. Jika akuisisi ini berhasil, Barito Renewables akan langsung menjadi salah satu raksasa energi panas bumi di Asia.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia—sekitar 40% cadangan global—Indonesia justru masih tertinggal dalam pemanfaatan energi geothermal. Akuisisi EDC oleh konglomerat Tanah Air bisa menjadi katalis untuk mempercepat adopsi teknologi dan praktik terbaik dari Filipina, yang saat ini menjadi salah satu produsen panas bumi terdepan di dunia. Para pelaku industri di dalam negeri tentu akan mencermati bagaimana Barito mengintegrasikan aset lintas batas ini.
Dari sisi investor, tawaran ini juga menarik perhatian. Juan Paolo E. Colet, Direktur Utama China Bank Capital Corp., menilai bahwa proposal tersebut berpotensi menguntungkan pemegang saham First Gen. "Dengan diskon valuasi pasar yang terus dialami First Gen, transaksi seperti ini dapat menjadi peluang untuk mengembalikan modal dalam jumlah signifikan kepada pemegang saham," ujarnya seperti dikutip Business World. Namun, Colet juga mengingatkan bahwa realisasi akuisisi masih bergantung pada hasil uji tuntas dan persetujuan regulator.
Meski prospeknya menggiurkan, jalan menuju kesepakatan masih terjal. Regulasi Filipina yang ketat di sektor energi, serta kepentingan politik lokal, bisa menjadi batu sandungan. Belum lagi persaingan dengan calon pembeli lain yang mungkin muncul. Pertanyaan besarnya: akankah Prajogo Pangestu berhasil menambah kerajaan bisnisnya dengan mahkota panas bumi Filipina, ataukah tawaran ini hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah ekspansi energi regional?



