Pembiayaan Emas Melonjak 1.715%, Bank Mega Syariah Bukukan Pertumbuhan Konsumer 17,7%
Baca dalam 60 detik
- Portofolio pembiayaan konsumer Bank Mega Syariah mencapai Rp601 miliar hingga Juni 2026, tumbuh 17,7% year-on-year.
- Produk pembiayaan emas menjadi primadona dengan lonjakan 1.715% menjadi Rp42,6 miliar, setara 22,3 kilogram logam mulia.
- Bank fokus pada digitalisasi dan produk unggulan seperti pembiayaan tanpa agunan dan haji khusus untuk mencapai target akhir tahun.

PT Bank Mega Syariah mencatatkan pertumbuhan signifikan pada segmen pembiayaan konsumer sepanjang semester pertama 2026. Hingga akhir Juni, portofolio pembiayaan konsumer perseroan mencapai Rp601 miliar, naik 17,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan bahwa produk-produk syariah semakin diminati masyarakat di tengah persaingan perbankan nasional.
Jika dilihat secara year-to-date, pertumbuhan mencapai 5,72% dari posisi akhir 2025. Namun yang paling mencolok adalah kinerja pembiayaan emas. Produk ini mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 1.715% menjadi Rp42,6 miliar, dengan total penyaluran logam mulia mencapai 22,3 kilogram sepanjang Desember 2025 hingga Juni 2026. Angka ini mengindikasikan pergeseran preferensi masyarakat terhadap instrumen investasi dan pembiayaan berbasis aset riil.
Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, Benadicto Alvonzo Ferary, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan keberhasilan perseroan dalam menjaring nasabah melalui kanal digital dan produk yang sesuai kebutuhan. "Segmen konsumer menjadi salah satu area yang terus kami perkuat. Pertumbuhan portofolio hingga Juni 2026 menunjukkan bahwa produk pembiayaan Bank Mega Syariah semakin diterima masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/7/2026).
Ke depan, Bank Mega Syariah menargetkan pertumbuhan bisnis konsumer dengan mengoptimalkan produk unggulan seperti pembiayaan emas, pembiayaan tanpa agunan, dan pembiayaan haji khusus. Strategi ini akan didukung penguatan kanal digital serta perluasan akuisisi nasabah berbasis komunitas dan ekosistem. "Kami akan memperkuat sinergi dengan jaringan cabang, meningkatkan kualitas proses akuisisi, serta mengoptimalkan kanal digital agar layanan pembiayaan semakin mudah, cepat, dan sesuai kebutuhan nasabah," tambah Benadicto.
Meski agresif dalam penyaluran, perseroan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Pemantauan kualitas portofolio, pengelolaan risiko, dan strategi penagihan terus diperkuat untuk menjaga kesehatan pembiayaan. Langkah ini penting mengingat tekanan ekonomi global dan potensi kenaikan kredit macet di sektor konsumer.
Bagi pasar Indonesia, pertumbuhan pembiayaan syariah di segmen konsumer menandakan semakin kuatnya penetrasi bank syariah di tengah dominasi bank konvensional. Dengan target pertumbuhan yang ambisius, Bank Mega Syariah berpotensi menjadi pemain kunci dalam ekosistem keuangan syariah nasional. Pertanyaannya, mampukah perseroan mempertahankan momentum ini hingga akhir tahun di tengah kompetisi yang semakin ketat?



