IHSG Kembali Hijau di Awal Perdagangan, Investor Asing Masih Pilih-Pilih Saham
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan dibuka menguat 0,19% ke 6.346,62 pada Kamis (23/7), memulihkan diri setelah sehari sebelumnya mengakhiri reli sembilan hari.
- Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan di 5,25%, langkah yang dinilai menjaga stabilitas namun belum cukup menarik arus modal asing secara signifikan.
- Aksi jual asing masih terfokus pada saham berkapitalisasi besar, sementara rotasi portofolio terlihat ke sektor komoditas dan keuangan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (23/7/2026) dengan catatan positif, naik 12,14 poin atau 0,19% ke level 6.346,62 pada pukul 09.00 WIB. Penguatan ini terjadi sehari setelah bursa domestik menghentikan reli panjang sembilan hari beruntun yang sempat mendorong optimisme pelaku pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sebanyak 250 saham tercatat menguat, 80 saham melemah, dan 635 saham stagnan pada awal sesi. Nilai transaksi baru mencapai Rp140,2 miliar dengan volume 311,5 juta saham yang diperdagangkan dalam 32.820 kali transaksi. Angka ini masih jauh dari rata-rata harian, menandakan pelaku pasar masih wait and see.
Sentimen domestik hari ini masih didominasi oleh keputusan Bank Indonesia yang kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,25%, sesuai ekspektasi mayoritas analis. Langkah ini dinilai mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan, meskipun belum cukup mendorong aliran dana asing masuk secara agresif. Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi global, termasuk klaim pengangguran AS dan data manufaktur Eropa, yang berpotensi menjadi katalis pergerakan selanjutnya.
Pada perdagangan sebelumnya (Rabu, 22/7), IHSG ditutup melemah tipis 0,09% ke 6.334,48, mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut. Meski terkoreksi, aktivitas perdagangan tetap ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp18,52 triliun dan volume 44,63 miliar saham. Sebanyak 367 saham terkoreksi, 281 menguat, dan 317 stagnan. Aksi ambil untung (profit taking) menjadi pemicu utama pelemahan tersebut, terutama setelah indeks mencatat kenaikan signifikan dalam sembilan hari sebelumnya.
Investor asing masih mencatatkan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp920,3 miliar di pasar reguler pada Rabu. Aksi jual terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Di sisi lain, asing mulai melakukan akumulasi pada saham-saham sektor komoditas dan keuangan seperti PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pola ini mengindikasikan adanya rotasi portofolio dari saham defensif ke siklikal, sejalan dengan ekspektasi pemulihan harga komoditas global.
Dari eksternal, penguatan dolar Amerika Serikat masih menjadi tekanan bagi aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama membuat aliran dana ke emerging markets cenderung selektif. Pelaku pasar akan mencermati rilis data klaim pengangguran mingguan AS dan indeks manufaktur S&P Global untuk mengonfirmasi arah kebijakan moneter The Fed.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan akan sangat bergantung pada konsistensi aliran dana asing dan sentimen global. Jika aksi jual asing berlanjut, indeks berpotensi kembali menguji level support 6.300. Sebaliknya, jika data ekonomi global memberikan sinyal positif, bukan tidak mungkin IHSG kembali menguat dan melanjutkan tren reli jangka pendek. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah rotasi portofolio asing ke sektor komoditas cukup kuat untuk menopang indeks di tengah ketidakpastian global?



