Kurator Museum di Hokkaido Ciptakan Rekonstruksi 3D Kerangka Paus dari Foto Bedah
Baca dalam 60 detik
- Seorang kurator di Hokkaido berhasil membuat gambar tiga dimensi kerangka paus utuh dengan menggabungkan foto-foto yang diambil saat proses pembedahan.
- Teknik ini memungkinkan penentuan posisi tulang yang akurat, yang selama ini sulit dilakukan karena ukuran dan kulit tebal paus.
- Metode sederhana ini diharapkan dapat diterapkan pada spesies paus lain, termasuk yang sudah punah, untuk memajukan studi bentuk tubuh dan gerakan renang.

Seorang kurator museum di Hokkaido, Jepang, berhasil menciptakan rekonstruksi tiga dimensi (3D) kerangka paus secara utuh hanya dengan memanfaatkan foto-foto yang diambil selama proses pembedahan. Temuan ini membuka jalan baru bagi penelitian anatomi mamalia laut yang selama ini terkendala oleh ukuran raksasa dan ketebalan kulit hewan tersebut.
Tatsuya Shinmura, kurator di Ashoro Museum of Paleontology, memublikasikan studinya di jurnal Marine Mammal Science pada Juni lalu. Ia menggunakan dokumentasi fotografi 3D untuk merekonstruksi konfigurasi kerangka seekor paus paruh betina yang terdampar di Shinhidaka, Hokkaido, pada Desember tahun sebelumnya. Paus sepanjang sekitar 5,3 meter itu dibedah secara bertahap, dan Shinmura mengambil sekitar 100 foto pada setiap dari lima tahap pembedahan menggunakan kamera refleks lensa tunggal. Foto-foto tersebut kemudian dianalisis dengan perangkat lunak khusus untuk menghasilkan gambar 3D kerangka.
Selama ini, spesimen kerangka paus yang dipajang di berbagai museum sering kali memiliki posisi dan orientasi tulang yang berbeda, bahkan dalam spesies yang sama. Hal ini disebabkan oleh ukuran paus yang besar dan kulitnya yang tebal, sehingga tidak memungkinkan untuk memeriksa tulang menggunakan sinar-X atau sentuhan. Metode rekonstruksi 3D dari foto ini dinilai mampu mengatasi keterbatasan tersebut dan memberikan gambaran posisi tulang yang lebih akurat.
Menurut Shinmura, teknik rekonstruksi 3D ini tidak hanya terbatas pada paus yang baru mati, tetapi juga dapat diterapkan pada spesies paus lain, termasuk yang sudah punah. Dengan metode ini, para peneliti dapat merekonstruksi kerangka paus purba dan mempelajari lebih lanjut tentang bentuk tubuh serta gerakan renang mereka. "Saya yakin metode sederhana ini mudah dicoba oleh banyak orang," ujar Shinmura, seperti dikutip dalam artikelnya.
Bagi Indonesia, negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi, teknik ini menawarkan potensi besar. Kasus terdamparnya paus sering terjadi di perairan Indonesia, dan metode rekonstruksi 3D dapat membantu ilmuwan lokal mendokumentasikan serta mempelajari anatomi paus tanpa harus mengandalkan peralatan mahal. Ke depannya, kolaborasi dengan museum-museum di Indonesia dapat memperkaya basis data kerangka paus global dan mendukung upaya konservasi mamalia laut.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana teknik fotografi 3D ini dapat diadopsi secara luas oleh institusi riset di negara berkembang, mengingat keterbatasan sumber daya dan keahlian teknis. Namun, dengan kesederhanaan metode yang diklaim Shinmura, bukan tidak mungkin rekonstruksi kerangka paus 3D akan menjadi praktik standar dalam paleontologi kelautan di masa mendatang.



