AS dan Iran Makin Mendekati Perang Total: Serangan Udara Kesembilan Dilancarkan, Harga Minyak Tembus 90 Dolar
Baca dalam 60 detik
- Amerika Serikat melancarkan serangan udara kesembilan berturut-turut ke Iran setelah satu prajuritnya tewas dalam ledakan terkendali drone Iran di Irak.
- Iran membalas dengan menembakkan rudal ke Yordania dan menyerang infrastruktur sipil di Kuwait, memicu kekhawatiran meluasnya konflik ke Israel.
- Gangguan di Selat Hormuz mendorong harga minyak Brent di atas 90 dolar AS per barel, memperparah krisis energi global dan berpotensi mempengaruhi harga BBM di Indonesia.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik didih baru setelah Washington melancarkan serangan udara untuk malam kesembilan berturut-turut, menyusul tewasnya seorang prajurit AS dalam operasi pemusnahan drone Iran di Irak. Serangan balasan Iran yang menargetkan negara-negara sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Yordania dan Kuwait, meningkatkan risiko meluasnya konflik ke Israel dan mengancam stabilitas kawasan.
Langkah demi langkah, kedua negara semakin mendekati perang habis-habisan. Kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu untuk mengakhiri pertempuran secara permanen kini runtuh. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, nyaris terhenti. Harga minyak mentah Brent melonjak di atas 90 dolar AS per barel pada Senin, memperparah krisis energi global yang dipicu oleh konflik ini.
Presiden AS Donald Trump menyatakan, "Kami menghantam mereka dengan sangat keras lagi malam ini. Dan kami melakukannya untuk menghormati para prajurit yang gugur." Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa serangan terbaru menargetkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal dagang di Selat Hormuz. Sejak perang dimulai, 17 prajurit AS telah tewas.
Iran membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Yordania berhasil menembak jatuh beberapa rudal, namun Kuwait melaporkan serangan kedua dalam dua hari terhadap pembangkit listrik dan desalinasi airnya. Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk, Jasem Mohamed al-Budaiwi, menuduh Iran melakukan kejahatan perang karena menyerang infrastruktur sipil. Hukum humaniter internasional melindungi fasilitas sipil, namun dapat kehilangan perlindungan jika digunakan untuk tujuan militer.
Israel memperingatkan bahwa rudal Iran yang diluncurkan ke arah pelabuhan Aqaba di Yordania dapat meluas ke wilayahnya untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan. Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menyatakan kesiapan untuk segera melanjutkan pertempuran. Sementara itu, Badan Energi Atom Iran mengklaim bahwa serangan AS menghantam lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di barat daya. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan situs tersebut masih dalam tahap awal konstruksi dan tidak mengandung bahan nuklir.
Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa implikasi serius. Sebagai importir minyak, kenaikan harga minyak Brent di atas 90 dolar AS per barel akan menekan anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri. Gangguan di Selat Hormuz juga mengancam pasokan minyak mentah ke Indonesia, yang sebagian masih bergantung pada impor dari kawasan Teluk. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak inflasi dan menyiapkan langkah-langkah stabilisasi harga.
Dengan setengah dari masa 60 hari yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata telah berlalu, prospek negosiasi damai semakin suram. Serangan AS yang terus berlanjut dan balasan Iran yang meluas ke negara-negara tetangga menunjukkan bahwa konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pertanyaannya, sejauh mana kedua belah pihak bersedia mundur sebelum kawasan benar-benar terjerumus ke dalam perang regional yang menghancurkan?



