Anwar Ibrahim Peringatkan Ancaman Perpecahan: Persatuan Malaysia Bukan untuk Ditawar
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia menegaskan kemerdekaan negeri itu diraih berkat kekuatan kolektif semua etnis, bukan satu golongan saja.
- Anwar mengajak rakyat berhenti memperdebatkan perbedaan ras setelah hampir tujuh dekade merdeka, dan fokus pada pembangunan ekonomi serta kesejahteraan.
- Dalam pidatonya, ia menyoroti transformasi Perak dari pusat timah menjadi hub manufaktur otomotif dan teknologi hijau sebagai contoh nyata nation-building.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menegaskan bahwa kemerdekaan negeri itu merupakan hasil kerja keras seluruh lapisan masyarakat, bukan monopoli satu kelompok etnis. Dalam pidato peluncuran Bulan Kebangsaan dan Kibar Jalur Gemilang 2026 di Ipoh, ia memperingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba mengobarkan sentimen perpecahan dengan mengatasnamakan kepentingan sempit.
Anwar mengingatkan bahwa semangat nasionalisme Melayu memang berperan penting dalam merebut kemerdekaan, namun kontribusi etnis Tionghoa, India, Dayak, Kadazan, dan komunitas lainnya sama sekali tidak bisa dikesampingkan. โJangan biarkan siapa pun memanipulasi dan memecah belah kita, karena negara ini merdeka berkat kekuatan kolektif seluruh warga Malaysia,โ ujarnya di hadapan ribuan hadirin.
Perdana Menteri juga menyoroti moto nasional โBersekutu Bertambah Mutuโ yang diperkenalkan oleh Perdana Menteri pertama Tunku Abdul Rahman. Menurutnya, moto itu tetap relevan hingga kini sebagai pengingat bahwa persatuan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat dan membangun bangsa yang lebih tangguh.
Dalam kesempatan itu, Anwar secara khusus menyoroti transformasi ekonomi Perak. Negeri yang dulu identik dengan industri timah itu, kini mulai menjelma menjadi pusat manufaktur otomotif dan berpotensi menjadi kawasan regional untuk teknologi baru dan ramah lingkungan. โInilah arti nation-building: membangun Malaysia yang kita cintai,โ katanya.
Peringatan Anwar datang di tengah meningkatnya tensi politik di Malaysia yang kerap diwarnai isu identitas. Beberapa pihak menilai bahwa retorika yang mengedepankan sentimen etnis masih kerap digunakan untuk meraih dukungan politik. Dengan pernyataan tegas ini, Anwar ingin memastikan bahwa agenda pembangunan tidak tersandera oleh kepentingan kelompok tertentu.
โPersatuan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat dan membangun bangsa yang lebih tangguh.โ โ Anwar Ibrahim
Bagi Indonesia, pengalaman Malaysia dalam mengelola keberagaman etnis bisa menjadi cermin. Negeri jiran itu memiliki komposisi etnis yang mirip dengan Indonesia, meski dengan proporsi berbeda. Keberhasilan atau kegagalan Malaysia dalam menjaga kohesi sosial akan berdampak pada stabilitas kawasan Asia Tenggara, termasuk arus investasi dan kerja sama bilateral.
Ke depan, tantangan Anwar adalah menerjemahkan pesan persatuan ke dalam kebijakan konkret yang dirasakan langsung oleh rakyat. Pertanyaan besarnya: apakah seruan ini cukup untuk meredam politik identitas yang menguat, atau justru akan menjadi retorika tanpa dampak nyata?



