Siput Laut Mini Sebesar Biji Wijen Ditemukan di Taiwan, Bukti Banyak Spesies Laut Masih Tersembunyi
Baca dalam 60 detik
- Spesies siput laut baru Thecacera sesama, berukuran kurang dari 3 mm, ditemukan di perairan Taiwan setelah hampir 200 tahun tanpa penambahan anggota genus Thecacera.
- Penemuan ini menggarisbawahi betapa minimnya pengetahuan manusia tentang keanekaragaman hayati laut mikro, terutama di kawasan yang kerap terlewat riset.
- Temuan ini membuka peluang bagi riset biodiversitas laut Indonesia, yang memiliki ekosistem terumbu karang luas namun masih banyak spesies kecil belum teridentifikasi.

Lautan masih menyimpan segudang misteri, dan temuan terbaru dari perairan Taiwan kembali membuktikan bahwa banyak spesies berukuran superkecil luput dari radar ilmu pengetahuan. Seekor siput laut tanpa cangkang sebesar biji wijen—kurang dari 3 milimeter—resmi diidentifikasi sebagai spesies baru setelah terkuak secara tidak sengaja oleh seorang mahasiswa saat menyelam rekreasi pada 2019.
Spesies yang diberi nama Thecacera sesama ini merupakan anggota ketujuh dari genus Thecacera, yang selama hampir dua abad hanya diketahui memiliki enam spesies dengan ukuran jauh lebih besar, antara 1,3 hingga 2,5 sentimeter. Penemuan ini menjadi pengingat bahwa organisme laut mikro kerap tersembunyi di celah terumbu karang atau menempel pada permukaan berlumut, sehingga sulit terdeteksi bahkan oleh penyelam berpengalaman sekalipun.
Ho-Yeung Chan, penulis utama studi yang saat itu masih sarjana, tanpa sengaja memotret hewan kecil bertotol hitam dan kuning saat menyelam di perairan Keelung, Taiwan utara. Awalnya ia tidak menyadari keunikan temuannya. Baru setelah menghubungi ahli siput laut Hsini Lin melalui Facebook, kemungkinan spesies baru mulai terkuak. Studi yang dipublikasikan di jurnal ZooKeys ini melibatkan peneliti dari National Taiwan Ocean University, National Museum of Natural Science, dan National Taipei University of Education.
Nama sesama bukan sekadar pemanis. Tim peneliti mengabadikan sebutan lokal yang sudah digunakan penyelam Taiwan—"wijen"—karena bentuknya yang memang menyerupai biji wijen. Secara morfologi, T. sesama memiliki tubuh translusen putih dengan bintik hitam, bercak kuning, dan lima insang. Perilakunya sederhana: hanya mencari makan, bergerak, kawin, dan bertelur di atas bryozoa—invertebrata air kecil yang juga diduga spesies belum teridentifikasi.
Bagi peneliti, nudibranch atau siput laut telanjang memegang peran penting dalam rantai makanan terumbu karang. Namun, banyak di antaranya berukuran sangat kecil sehingga luput dari pengamatan. Kondisi geografis Keelung yang kerap dilanda topan dan angin kencang, serta suhu air yang bisa turun di bawah 16 derajat Celsius, membuat riset nudibranch di Taiwan relatif tertinggal dibanding kawasan Asia Tenggara dan Pasifik.
Penemuan ini membuka mata akan potensi besar biodiversitas laut mikro di Indonesia. Dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan kekayaan terumbu karang yang melimpah, Indonesia menjadi kawasan yang sangat mungkin menyimpan banyak spesies nudibranch mini yang belum teridentifikasi. Minimnya riset taksonomi di perairan tropis, terutama pada organisme berukuran mikro, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi ilmuwan dalam negeri.
Tim peneliti meyakini bahwa T. sesama hanyalah permulaan. Masih banyak spesies laut mikro yang menunggu untuk ditemukan, terutama di perairan yang jarang tersentuh eksplorasi ilmiah. Pertanyaan besarnya: seberapa banyak lagi kehidupan mungil yang tersembunyi di lautan Indonesia, dan apakah kita siap mengungkapnya sebelum semuanya lenyap akibat kerusakan ekosistem?



