Ketika Kecoa Berdemo: Gelombang Protes Sistem Pendidikan India Mengguncang Parlemen
Baca dalam 60 detik
- Ribuan demonstran dari Cockroach Janta Party (CJP) berencana berarak ke parlemen India pada Senin (20/7) menuntut reformasi pendidikan setelah aksi pengusiran paksa aktivis Sonam Wangchuk.
- Gerakan yang lahir dari sindiran online ini menyoroti kebocoran soal ujian yang memicu pembatalan tes medis, berdampak pada 2,28 juta peserta dan 20 lebih kasus bunuh diri.
- Pemerintah India di bawah PM Modi belum merespons tuntutan, sementara oposisi mengecam tindakan aparat sebagai kekerasan negara yang mencekik demokrasi.

Ribuan pelajar, orang tua, aktivis, dan politikus India bersiap menggelar aksi long march menuju gedung parlemen di New Delhi pada Senin (20/7), mengikuti seruan Cockroach Janta Party (CJP) yang menuntut perombakan total sistem pendidikan nasional. Aksi ini memuncak setelah aparat keamanan secara paksa membawa pergi aktivis pendidikan Sonam Wangchuk yang tengah menjalani mogok makan hari ke-21.
CJP yang didirikan Abhijeet Dipke pada Mei lalu awalnya hanyalah gerakan satir daring untuk memprotes kebocoran soal ujian dan kecurangan akademik. Namun, gerakan ini dengan cepat menjelma menjadi fenomena massal. Para pendukungnya, yang menyebut diri mereka 'kecoa', telah bermukim di Jantar Mantarโsebuah observatorium berusia 300 tahun di Delhiโselama sebulan terakhir. Wangchuk, yang hanya mengonsumsi garam dan air, kehilangan lebih dari 9 kilogram dan berada dalam kondisi kritis, tetapi tetap bertekad ikut serta dalam pawai.
Ketegangan memuncak pada Sabtu (19/7) pagi saat puluhan polisi dan paramiliter menyerbu panggung tempat Wangchuk berbaring. Mereka menutupinya dengan seprai dan membawanya ke Rumah Sakit Safdarjung. Istri Wangchuk, Gitanjali Angmo, menyatakan suaminya tetap melanjutkan mogok makan di rumah sakit dan hanya akan menghentikannya jika para pemimpin politik menemuinya serta menjamin isu akuntabilitas pendidikan menjadi agenda utama sidang parlemen.
Dipke, yang kini memulai mogok makan tak terbatas menggantikan Wangchuk, menegaskan bahwa aksi long march tetap berlangsung. "Jika mereka pikir membawa pergi Wangchuk akan mengakhiri gerakan ini, mereka keliru. Kami akan tetap di sini dan berarak ke parlemen pada 20 Juli," ujarnya. Ribuan orang telah menyatakan kesiapan bergabung dalam solidaritas.
Akar protes ini adalah pembatalan sejumlah ujian penting setelah terungkapnya kebocoran soal. Pada awal Mei, ujian masuk kedokteran yang krusial dibatalkan, mempengaruhi nyaris 2,3 juta kandidat. Ujian ulang digelar 21 Juni, namun lebih dari 20 peserta dilaporkan bunuh diri oleh keluarga mereka. Salah satu tuntutan utama CJP adalah pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan, yang dinilai gagal bertanggung jawab secara moral. Pradhan mengecap CJP sebagai "tim B dari elemen pengacau", sementara pemerintah PM Narendra Modi belum memberikan respons resmi.
Pasca pengusiran Wangchuk, CJP memperluas tuntutan hingga menuntut mundur Modi. "Sebelumnya kami hanya menuntut pengunduran Pradhan, tetapi setelah tindakan keji ini, kami sekarang menuntut pengunduran Narendra Modi," tegas Dipke. Sejumlah anggota parlemen dari partai oposisi mengecam tindakan tersebut sebagai "kekerasan negara yang koersif dan mengejutkan" serta "serangan terhadap demokrasi".
Tekanan dari oposisi dan masyarakat sipil semakin menguat dalam beberapa hari terakhir. Banyak tokoh yang mengunjungi Wangchuk dan menyatakan bahwa tuntutan para pengunjuk rasa sah dan pemerintah harus berdialog. Pertanyaannya, akankah pemerintah Modi yang dikenal otoriter mau mendengar suara 'kecoa' yang terus menggeliat, atau justru semakin memperkeras represi?



