Anwar Tantang Elite Melayu: Nyatakan Harta, Kembalikan Setengah pada Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menantang politisi yang mengaku pejuang Melayu untuk mengumumkan kekayaan dan menyerahkan setengahnya kepada komunitas yang mereka klaim bela.
- Anwar menyebut ada mantan menteri dengan harta Rp14 triliun dan pejabat lain Rp7 triliun saat meninggal, tanpa menyebut nama, dan siap membuktikan jika ditantang.
- Tantangan ini muncul menjelang pemilu negara bagian Negeri Sembilan, di mana Pakatan Harapan menghadapi koalisi Barisan Nasional-Perikatan Nasional dalam 36 kursi.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, melontarkan tantangan terbuka kepada para politisi yang gemar mencitrakan diri sebagai pembela orang Melayu: umumkan seluruh kekayaan kalian, lalu serahkan setengahnya kembali kepada komunitas yang katanya kalian perjuangkan. Tantangan itu disampaikan dalam sebuah ceramah politik di Senawang, Rabu (22/7) malam, di tengah hiruk-pikuk kampanye pemilihan negara bagian Negeri Sembilan.
Dalam pidatonya, Anwar mengungkapkan bahwa terlalu banyak tokoh yang mengklaim sebagai pejuang Melayu justru diam-diam mengumpulkan kekayaan pribadi yang luar biasa besar, sementara rakyat Melayu kebanyakan masih bergelut dengan kesulitan ekonomi. Ia mencontohkan dua kasus: seorang mantan menteri yang saat meninggal dunia diketahui memiliki aset senilai 4 miliar ringgit (sekitar Rp14 triliun), dan pejabat lain dengan harta 2 miliar ringgit (Rp7 triliun). Anwar tidak menyebutkan nama-nama tersebut, namun menegaskan siap membuktikan klaimnya jika ada yang menantang.
โApakah wajar menjadi sekaya itu? Ini catatannya,โ ujar Anwar di hadapan pendukung Pakatan Harapan. Ia menambahkan bahwa tantangan serupa pernah ia lontarkan sebelumnya, namun hingga kini belum ada satu pun politisi yang berani menjawab. โSaya bilang pada mereka: kalian yang mengaku berjuang untuk Melayu โ berapa harta kalian, 1 miliar ringgit, 2 miliar ringgit? Jika kalian tulus, kembalikan setengahnya pada orang Melayu. Sampai hari ini, tidak satu pun yang menjawab,โ tegasnya.
Anwar juga menyindir reaksi keras para politisi terhadap istilah โsakauโ โ bahasa gaul untuk menjarah uang publik โ yang pernah ia gunakan. Menurutnya, saat ia menyebut kata itu, mereka marah, namun ketika ia menantang mereka mengembalikan harta, tak ada yang berani bicara. โApakah saya mengutuk? Apakah saya memfitnah? Jika ini tidak diperjelas, orang Melayu akan terus disesatkan,โ kata Anwar.
Dalam kesempatan itu, Anwar menegaskan bahwa ia tidak pernah memperkaya diri selama menjabat. โJika saya menginginkan kekayaan, saya sudah lama berkompromi dan tidak akan pernah telanjang, dipukuli, dan dipenjara,โ ujarnya, merujuk pada masa-masa sulit yang ia alami sebagai tahanan politik.
Pernyataan Anwar ini muncul di tengah kontestasi politik yang ketat di Negeri Sembilan. Pakatan Harapan, koalisi pimpinan Anwar, bertarung melawan koalisi Barisan Nasional-Perikatan Nasional di seluruh 36 kursi DUN. Sebanyak 21 kursi diprediksi menjadi pertarungan tiga penjuru, yang bisa menjadi penentu kemenangan. Anwar tampaknya memanfaatkan isu transparansi kekayaan elite sebagai senjata kampanye untuk merebut hati pemilih Melayu yang selama ini menjadi basis utama lawan-lawannya.
Bagi pengamat politik Malaysia, tantangan Anwar ini bukan sekadar retorika kampanye. Ia menyentuh isu sensitif tentang kesenjangan ekonomi dan moralitas kepemimpinan di kalangan elite Melayu. Di Indonesia, isu serupa kerap muncul dalam wacana publik, terutama terkait tuntutan transparansi harta pejabat dan kritik terhadap politisi yang dianggap munafik. Namun, belum ada pemimpin Indonesia yang secara terbuka menantang elite untuk mengembalikan setengah kekayaan mereka pada rakyat.
Ke depan, tantangan Anwar akan menjadi batu ujian bagi kredibilitas para politisi yang mengaku sebagai pembela kaum pribumi. Apakah akan ada yang berani menerima tantangan tersebut? Ataukah isu ini akan meredup begitu pemilu usai? Yang jelas, pernyataan Anwar telah membuka ruang diskusi baru tentang akuntabilitas kekayaan pejabat di Malaysia, dan mungkin juga menginspirasi gerakan serupa di negara tetangga.



