Ponsel AI Tanpa Aplikasi Mulai Nyata, Tapi Jalan Masih Panjang
Baca dalam 60 detik
- Pameran WAIC 2026 di Shanghai menjadi ajang unjuk gigi tiga vendor ponsel dengan agen AI yang bisa memesan makanan hingga mengedit video hanya lewat suara.
- Kendala utama adopsi massal adalah resistensi platform besar seperti Alibaba dan Tencent yang enggan memberikan akses penuh ke layanan mereka.
- Analis memprediksi dalam 5โ10 tahun model interaksi ponsel akan berubah total, namun saat ini belum ada pemain yang benar-benar unggul.

Shanghai, Juli 2026 โ Tiga produsen ponsel pintar memamerkan perangkat bertenaga agen kecerdasan buatan (AI) dalam ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) pekan lalu, menandai babak baru persaingan menuju ponsel yang mampu menggantikan peran aplikasi konvensional. Nubia, Honor, dan StepFun masing-masing memperkenalkan perangkat yang mengandalkan asisten virtual untuk mengeksekusi perintah suara, mulai dari memesan makanan hingga menyunting video.
Ponsel agen AI bekerja dengan memahami konteks percakapan dan menjalankan tugas lintas layanan tanpa perlu membuka aplikasi satu per satu. Nubia misalnya, meluncurkan NaviX Ultra yang ditenagai Doubao, chatbot besutan ByteDance. Perangkat ini disebut sebagai awal dari era baru ponsel agen AI. Namun, prototipe sebelumnya yang dirilis Desember laluโdijuluki "Doubao Phone"โludes terjual dalam waktu singkat sebelum akhirnya dihambat oleh pembatasan akses dari raksasa teknologi seperti Alibaba, Tencent, dan JD.com.
Pembatasan itu memaksa ByteDance menonaktifkan fitur agen AI dalam skenario tertentu, terutama yang melibatkan pembayaran. Menurut Kiranjeet Kaur, Associate Research Director IDC, masalah akses ke aplikasi milik pihak ketiga menjadi batu sandungan utama. "Platform ingin mempertahankan kontak langsung dengan pengguna. Jika tidak, mereka kehilangan kendali kepada pihak lain," ujarnya. Kaur menambahkan, meskipun agen AI adalah impian banyak pihak, kinerjanya masih sering tidak konsisten.
Pendekatan berbeda diambil Nubia pada NaviX Ultra. Menurut laporan media teknologi China, perangkat ini tidak memaksa masuk ke aplikasi, melainkan menjalin kolaborasi dengan platform. Sementara itu, Honor memamerkan "Robot Phone" dengan kamera yang bisa menari dan mengenali gestur manusia. Perangkat ini akan menggunakan agen berbasis beberapa model AI, sebagian dikembangkan bersama Alibaba, dan direncanakan rilis akhir tahun ini. StepFun, startup asal Shanghai, meluncurkan STEPX Neo yang mengklaim telah menjalin kemitraan mendalam dengan Alipay dan Didi. Menurut pernyataan Chairman Yin Qi dalam artikel bersponsor di Xinhua, ponsel ini mampu memberikan dukungan satu atap untuk pemesanan perjalanan, pembelian harian, layanan lokal, produktivitas kantor, dan penyuntingan video.
Di luar China, Google terus menyematkan fitur AI canggih ke ponsel, termasuk kemampuan menjadwalkan janji temu. Brain Technologies, startup AS, sudah memasarkan Natural AI Phone di Jepang melalui SoftBank. Dalam demonstrasi kepada AFP, ponsel tersebut mampu mengirim pesan permintaan maaf kepada kontak hanya dengan perintah suara, meskipun masih sering gagal menjalankan perintah lain.
Marc Einstein dari Counterpoint Research menilai belum ada pemenang yang jelas dalam perlombaan ini. "Dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, kita tidak akan menggunakan aplikasi di ponsel seperti sekarang. Ini akan mengubah ekonomi digital secara fundamental dan mengganggu model bisnis yang ada," ujarnya. Pertanyaan besarnya, akankah ekosistem aplikasi tradisional bertahan atau justru tergerus oleh agen AI yang semakin otonom?



