Ryan Fox Juara The Open: Ketenangan di Tengah Kekacauan Royal Birkdale
Baca dalam 60 detik
- Ryan Fox, putra legenda rugby Selandia Baru, menjuarai The Open ke-154 dengan birdie dramatis di hole terakhir.
- Kemenangan ini menjadikannya pemain keempat dalam 30 tahun terakhir yang memenangi major pertama di usia 39 tahun atau lebih.
- Fox melakukan comeback terbesar dalam sejarah major setelah tertinggal tujuh pukulan di hari pertama.

Di tengah panas terik Royal Birkdale dan kekacauan babak final The Open ke-154, Ryan Fox justru tampil paling dingin. Pegolf Selandia Baru berusia 39 tahun itu memastikan gelar major pertamanya dengan birdie dramatis di hole ke-18, mengungguli pesaing terdekatnya, Cameron Young, dengan selisih satu pukulan.
Fox, putra legenda rugby All Blacks Grant Fox, menuntaskan putaran akhir dengan skor dua-under 68. Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan namanya sebagai pemain keempat dalam tiga dekade terakhir yang berhasil memenangi turnamen major pertama di usia 39 tahun atau lebih. Pencapaian serupa terakhir kali dicatat oleh Darren Clarke pada 2011.
Babak final The Open tahun ini menyajikan drama yang ketat. Hingga memasuki hole terakhir, persaingan masih terbuka lebar. Namun Fox menunjukkan mental baja. Hole 18 yang panjang (par-4) hanya menghasilkan empat birdie sepanjang hari, namun Fox tidak gentar. Ia memukul tee-shot sejauh 330 yard ke tengah fairway, lalu melepas approach shot akurat ke tengah green dari jarak 175 yard. Putt sepanjang 11 kaki untuk birdie pun dikonversinya dengan tenang.
Perjalanan Fox di turnamen ini nyaris mustahil. Setelah putaran pertama dengan skor 72, ia berada di peringkat 85 bersama, tertinggal tujuh pukulan dari pemimpin. Putaran kedua 68 mengangkatnya ke posisi 52. Namun puncak performa terjadi pada Sabtu, saat ia mencatatkan skor 62 (delapan-under), menyamai rekor putaran terendah dalam sejarah major pria. Catatan itu juga menjadikannya pemain dengan comeback terbesar setelah 36 hole dalam sejarah major.
Bagi pegolf profesional, kemenangan di usia 39 tahun sering dianggap terlambat. Namun Fox membuktikan bahwa pengalaman dan ketenangan justru menjadi senjata. Gaya permainannya yang tanpa banyak drama—tidak tergesa, tidak rumit—menjadi kunci di bawah tekanan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan membaca lapangan dan mengelola emosi.
Kemenangan Fox juga menjadi sorotan bagi perkembangan golf di Asia-Pasifik. Selandia Baru kini memiliki dua juara major dalam satu dekade terakhir setelah Lydia Ko di nomor putri. Bagi Indonesia, prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi pegolf Tanah Air yang masih berjuang menembus panggung dunia. Federasi Golf Indonesia (PGI) dapat menjadikan pendekatan Fox—kombinasi persiapan teknis dan mental—sebagai model pembinaan atlet muda.
Dengan gelar ini, Fox dipastikan akan naik peringkat dan mendapatkan undangan otomatis ke turnamen major berikutnya. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mempertahankan konsistensi di usia yang tidak lagi muda? Atau justru ini akan menjadi puncak karier yang sulit diulang? Yang jelas, nama Ryan Fox kini telah terukir di Claret Jug, dan kisahnya akan dikenang sebagai salah satu kejutan paling manis dalam sejarah The Open.



