Ben Askren Tutup Karier Gulat: Kalah di Laga Comeback Usai Transplantasi Paru
Baca dalam 60 detik
- Pegulat Olimpiade dan mantan petarung UFC Ben Askren mengumumkan pensiun setelah kalah 6-3 dari Belal Muhammad di laga comeback-nya.
- Askren menjalani transplantasi paru ganda tahun lalu akibat pneumonia berat yang membuatnya koma 40 hari dan kehilangan banyak berat badan.
- Kekalahan ini menandai akhir perjalanan panjang Askren di dunia gulat, meninggalkan sepatu gulatnya di atas matras sebagai simbol pensiun.

Ben Askren, mantan pegulat Olimpiade dan petarung UFC, resmi menggantung sepatu gulatnya setelah menelan kekalahan 6-3 dari Belal Muhammad di UW-Milwaukee Panther Arena, Sabtu (19/7). Laga yang digelar Real American Freestyle itu menjadi penutup karier yang dramatis bagi atlet berusia 42 tahun yang baru saja pulih dari transplantasi paru ganda.
Askren, yang pernah mewakili Amerika Serikat di Olimpiade 2008 dan dua kali juara NCAA, memilih kembali ke matras pada hari ulang tahunnya yang ke-42. Ia mengaku laga ini adalah penampilan terakhirnya. Meski sempat unggul 3-0 di awal berkat tekanan dan pertahanan cepat, Askren kehilangan stamina di babak akhir dan membalikkan keadaan bagi Muhammad.
"Kakiku sudah tidak kuat, mereka tidak bisa lagi membawaku," ujar Askren sambil meninggalkan sepatu gulatnya di tengah matras, sebuah tradisi yang menandakan pensiun. "Pasti ini kali terakhir saya di atas matras. Saya tidak bisa menemukan tempat yang lebih baik untuk melakukannya. Setiap hari saya bangun dan berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan untuk melakukannya sekali lagi."
Perjalanan Askren menuju laga ini sungguh luar biasa. Tahun lalu, ia menderita pneumonia yang mengancam jiwa dan mengharuskannya menjalani transplantasi paru ganda. Dalam wawancara sebelumnya, Askren mengaku menghabiskan sekitar 40 hari dalam koma dan kehilangan banyak berat badan selama pemulihan. Meski masih memiliki keterbatasan fisik, ia nekat kembali ke matras untuk satu pertandingan perpisahan.
Askren sebelumnya sudah pensiun dari mixed martial arts (MMA) pada 2019 setelah karier singkat di UFC. Namun, kecintaannya pada gulat membuatnya kembali untuk satu laga terakhir. "Saya bekerja keras selama setahun terakhir. Ini berat," tambahnya. "Setiap hari saya bersyukur bisa melakukannya sekali lagi."
Kisah Askren menjadi pengingat akan ketangguhan mental dan fisik seorang atlet. Di Indonesia, perjuangan atlet yang bangkit dari cedera atau penyakit serius sering menjadi inspirasi, terutama di cabang olahraga gulat yang mulai berkembang. Meski tidak sepopuler sepak bola atau bulu tangkis, gulat Indonesia memiliki komunitas yang solid dan kerap mengirim atlet ke ajang SEA Games. Kisah Askren bisa menjadi motivasi bagi pegulat Tanah Air untuk tidak menyerah pada keterbatasan.
Pertanyaan kini mengemuka: akankah Askren benar-benar pensiun atau mungkin suatu hari kembali lagi? Yang jelas, dengan meninggalkan sepatu di matras, ia telah menuliskan akhir yang emosional untuk karier yang penuh liku.



