Duel Panas di Santiago del Estero: Inggris Taklukkan Argentina 31-24
Baca dalam 60 detik
- Ben Earl mencetak dua try saat Inggris menang 31-24 atas Argentina dalam laga Nations Championship yang diwarnai enam kartu kuning dan keputusan kontroversial TMO.
- Kemenangan ini menjadi yang kedua beruntun bagi Inggris setelah mengakhiri enam kekalahan beruntun, sementara Argentina menelan kekalahan kedua dari tiga laga perdananya.
- Insiden panas terjadi di akhir pertandingan saat try Argentina dianulir TMO karena bola dianggap keluar lapangan, memicu protes keras pemain tuan rumah.

Tim nasional rugby Inggris memetik kemenangan tandang yang dramatis atas Argentina dengan skor 31-24 dalam lanjutan Nations Championship di Stadion Estadio รnico Madre de Ciudades, Santiago del Estero, Sabtu malam. Pertandingan yang berlangsung sengit itu diwarnai enam kartu kuning, dua percobaan penalti, dan keputusan kontroversial wasit video (TMO) di menit-menit akhir yang memicu kemarahan pemain tuan rumah.
Bagi Inggris, hasil ini menjadi bukti kebangkitan setelah sebelumnya menelan enam kekalahan beruntun. Pekan lalu, mereka sukses menghancurkan Fiji 73-8 di Liverpool. Sementara itu, Argentina harus mengakui keunggulan lawan untuk kedua kalinya dalam tiga pertandingan pertama mereka di kompetisi anyar ini.
Ben Earl menjadi bintang kemenangan Inggris dengan dua try-nya. Dua try lainnya dicetak oleh Tommy Freeman, Marcus Smith, dan Immanuel Feyi-Waboso yang dinobatkan sebagai pemain terbaik. Fin Smith menyumbang tiga konversi. Di kubu Argentina, Mateo Carreras dan Justo Piccardo masing-masing mencetak satu try, ditambah satu penalti try yang diberikan wasit. Tomas Albornoz menambahkan satu penalti dan dua konversi.
Laga berjalan panas sejak menit awal. Inggris unggul cepat melalui Freeman pada menit ketiga setelah menerima umpan chip dari Fin Smith. Ketegangan langsung terlihat dari aksi tarik-menarik jersey antarpemain. Argentina sempat menyamakan warna seragam biru yang sama dengan tim sepak bola mereka saat mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia Atlanta, namun hal itu tidak membantu performa mereka di babak pertama.
Earl mencetak try pertamanya pada menit ke-23 setelah menerima umpan dari Feyi-Waboso yang lolos dari tekel. Try keduanya tercipta sepuluh menit kemudian melalui dorongan kuat dari skrum. Babak pertama berakhir dengan keunggulan 19-3 untuk Inggris.
Namun, Argentina tampil berbeda setelah jeda. Mateo Carreras yang sempat dihukum kartu kuning di babak pertama, mencetak try pada menit ke-43 melalui maul. Inggris kemudian kehilangan Jack van Poortvliet dan Alex Coles karena kartu kuning berturut-turut, dan Argentina mendapat penalti try setelah Coles dianggap menghalangi peluang mencetak angka. Skor berubah menjadi 19-17.
Peluang Argentina untuk menyamakan kedudukan sempat terbuka lebar saat Inggris bermain dengan 13 pemain di 10 menit terakhir. Namun, mereka gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Justru Inggris yang mampu menambah angka melalui Marcus Smith dan Feyi-Waboso. Piccardo memperkecil ketertinggalan pada menit ke-80, dan Delguy nyaris menyamakan kedudukan sebelum TMO memutuskan sebaliknya.
Keputusan itu memicu protes keras dari pemain Argentina, terutama Albornoz yang harus ditahan rekan-rekannya untuk tidak mendekati wasit. Pelatih Argentina, Felipe Contepomi, menyesalkan keputusan tersebut namun tetap menghormati hasil akhir.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik mengingat semakin populernya rugby di tanah air. Meski belum setinggi sepak bola, turnamen seperti Nations Championship memberikan gambaran tentang level persaingan internasional yang bisa menjadi tolok ukur bagi perkembangan olahraga ini di Indonesia.
Ke depan, Inggris akan menghadapi tantangan lebih berat saat menjamu Australia di Twickenham, sementara Argentina akan berusaha bangkit saat melawat ke Selandia Baru. Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris mempertahankan momentum kebangkitan mereka, atau justru Argentina yang akan bangkit dari keterpurukan?



