The Violinist: Animasi Kolaborasi Global yang Menghidupkan Singapura Era Kolonial
Baca dalam 60 detik
- Film animasi The Violinist, karya sineas Singapura Ervin Han dan Raul Garcia, meraih penghargaan tertinggi di Festival Film Animasi Annecy.
- Produksi melibatkan 400 kreator dari berbagai negara, dengan riset mendalam untuk akurasi sejarah Singapura dan Malaya era 1930-an.
- Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Singapura pada 17 September, dan akan diputar di festival film internasional Busan dan Toronto.

Setelah lebih dari satu dekade proses kreatif, film animasi The Violinist akhirnya siap menyapa penonton. Karya yang digarap sineas Singapura Ervin Han bersama animator Spanyol Raul Garcia ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah surat cinta untuk kawasan Asia Tenggara yang dikemas lewat goresan tangan ratusan seniman dari berbagai penjuru dunia.
Perjalanan film ini berawal dari film pendek berjudul The Violin pada 2015, yang mengisahkan seorang anak laki-laki di Boat Quay era 1930-an yang belajar bermain biola. Dari benih itulah, Han mengembangkannya menjadi sebuah fitur panjang yang berlatar Singapura dan Malaya sebelum serta selama masa pendudukan Jepang. Kisahnya berpusat pada dua musisi muda, Kai dan Fei, yang persahabatan dan impiannya tercabik oleh perang.
Prestasi membanggakan diraih The Violinist ketika memenangkan Cristal untuk Film Fitur di Festival Film Animasi Annecy, Prancis, awal tahun ini. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa cerita lokal dengan sentuhan universal mampu menembus panggung internasional. Namun, di balik gemerlap penghargaan, terdapat kerja keras luar biasa yang melibatkan sekitar 400 animator, produser, dan musisi dari Spanyol, Italia, Indonesia, Filipina, hingga Kolombia.
Kolaborasi internasional ini lahir dari sebuah kebutuhan pragmatis. Han mengakui bahwa sumber daya animator di Singapura tidak mencukupi untuk menggarap film sebesar ini sendirian. "Tidak mungkin kami mengerjakan semuanya di Singapura," ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa meski dikerjakan lintas negara, jiwa Singapura tetap terjaga. Tim lokal bertanggung jawab atas pra-produksi, termasuk desain arsitektur dan nuansa dunia, sementara tim luar negeri mengikuti paket referensi detail yang disusun untuk memastikan akurasi sejarah.
Ketegangan antara tuntutan akurasi sejarah dan efisiensi animasi sempat mewarnai proses kreatif. Garcia, yang pernah bekerja di Disney pada era Renaissance, mengaku kerap berbeda pendapat dengan Han yang sangat teliti. Salah satu contohnya adalah detail lipatan kaki seragam tentara Jepang. Han mengusulkan 25 garis, namun Garcia, dengan pertimbangan "pencil mileage", menyarankan hanya empat garis. "Setiap detail kecil berarti kerja ekstra bagi animator," jelas Garcia. Meski demikian, Han menilai perbedaan tersebut justru memperkaya hasil akhir.
Riset sejarah menjadi fondasi penting film ini. Han menghabiskan dua tahun membaca sekitar sepuluh buku, sejarah lisan, dan mengunjungi museum seperti Baba House untuk memastikan keaslian latar. Timnya juga membuat paket referensi yang mencakup karakter khas masa itu, seperti tukang perahu Melayu, kuli dari China, dan pedagang dari India serta Arab. Bahkan, untuk satu adegan Chinatown tahun 1920-an, hasil awal dari tim luar negeri sempat terlihat seperti Paris, yang mengundang tawa Han. "Kami sadar tim Singapura harus mengerjakan pekerjaan rumahnya lebih dulu," kenangnya.
Musik memegang peran krusial dalam film ini. Komposer Ricky Ho menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menciptakan melodi utama dan sekitar satu tahun untuk keseluruhan soundtrack. Ia mengingat arahan Han agar "penonton menangis sejak nada pertama". Ketepatan animasi memainkan biola juga menjadi tantangan tersendiri. Tim animasi menghabiskan 18 bulan untuk memastikan gerakan jari para karakter sesuai dengan teknik bermain biola yang benar, meski tidak ada satu pun animator yang bisa memainkan instrumen tersebut.
Bagi Garcia, film ini juga menjadi perjalanan penemuan sejarah. Ia mengaku pengetahuannya tentang Perang Dunia II di Asia sebelumnya hanya sebatas Pearl Harbour dan Hiroshima. "Riset tentang Singapura dan Asia Tenggara menjadi proses penemuan bagi saya," tuturnya. Namun, sejarah tidak dimaksudkan untuk mendominasi cerita. Han menegaskan bahwa inti film ini adalah tentang dua sahabat yang berusaha menemukan jalan kembali satu sama lain di tengah perang. "Anda bisa menempatkannya di periode atau budaya apa pun, baik Perang Saudara Spanyol maupun perang yang terjadi saat ini," kata Han. "Rasa sakitnya sama, penderitaan manusianya sama," tambah Garcia.
The Violinist akan tayang di bioskop Singapura mulai 17 September. Sebelumnya, akan ada pemutaran perdana di Filmhouse SG pada 11 September yang diikuti diskusi dengan sutradara Ervin Han. Film ini juga dijadwalkan tampil di Festival Film Busan dan Festival Film Internasional Toronto. Bagi penonton Indonesia, kehadiran film ini menjadi pengingat bahwa kisah-kisah Asia Tenggara memiliki daya tarik universal, dan kolaborasi lintas negara dapat menghasilkan karya yang tetap berakar pada identitas lokal. Pertanyaannya, apakah industri animasi Indonesia siap mengambil peran serupa dalam proyek-proyek ambisius seperti ini?



