Dari Ben Yeo hingga JJ Lin: 35 Selebriti Singapura yang Bertaruh di Bisnis Kuliner
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 35 figur publik Singapura, mulai dari aktor hingga musisi, tercatat pernah atau masih mengelola usaha makanan dan minuman, dari gerai kaki lima hingga restoran premium.
- Bisnis F&B tetap menjadi ladang spekulasi tinggi bagi selebriti, dengan tingkat kegagalan yang tidak lebih rendah dari pengusaha biasa, terbukti dari banyaknya konsep yang tutup dalam beberapa tahun terakhir.
- Strategi adaptif seperti fokus pada menu massal dan biaya rendah, serta akuisisi grup restoran mapan, menjadi kunci bagi sebagian selebriti untuk bertahan di tengah persaingan ketat.

Bisnis kuliner di Singapura bagaikan medan perang yang tak kenal ampun, bahkan bagi mereka yang sudah punya nama besar. Dari Ben Yeo yang harus menutup enam gerai sup ikannya hingga Taufik Batisah yang justru memperluas jaringan ayam gorengnya, nasib para selebriti di industri ini sangat beragam—sebuah cerminan bahwa popularitas tak menjamin kesuksesan di piring konsumen.
Ben Yeo, aktor dan pembawa acara yang namanya melekat dengan berbagai konsep restoran, menjadi contoh paling gamblang. Dalam sebulan terakhir, keenam gerai Tan Xiang Sliced Fish Soup miliknya tutup, namun tiga outlet Tan Xiang Charcoal Fishhead Steamboat di Kallang, Woodlands, dan Chai Chee masih beroperasi. Yeo juga baru saja mengakuisisi grup restoran Creative Eateries pada 2025 bersama saudara-saudaranya, menjadikannya kepala pemasaran yang mengelola 14 merek dan 24 gerai, termasuk Bangkok Jam dan Suki-Ya. Strateginya, menurut pengakuannya, adalah eksperimen dan adaptasi cepat—beralih dari konsep ambisius ke operasi massal berbiaya rendah yang mudah diuji.
Fenomena serupa terjadi di kalangan musisi. JJ Lin, penyanyi populer, sukses dengan kedai kopi spesialtisnya, Miracle Coffee, yang pertama kali dibuka di Taipei pada 2018 dan kini hadir di Marina Bay Sands dengan menu eksklusif Kaya Cloud. Sementara itu, Taufik Batisah, pemenang Singapore Idol, justru memilih jalur berbeda: ia membuka Chix Hot Chicken pada 2018 dan pada 2025 menambah gerai kedua bertema American diner. Di sisi lain, grup musik The Muttons—Justin Ang dan Vernon Anthonisz—masih bertahan dengan Fook Kin (roast meat) dan Korat Thai Cafe, meski izakaya mereka di Prinsep Street, Itchy Bun, sudah tutup.
Namun, tak sedikit pula yang gagal bertahan. Pierre Png dan Andrea D’Cruz harus menutup Tipsy Flamingo pada 2024 setelah grup Tipsy Collective melakukan restrukturisasi. Daniel Ong, mantan penyiar radio, menutup semua gerai Rookery dan satu cabang Dan’s Steaks, meski gerai pertamanya di Serangoon Garden masih buka. Bahkan aktor kawakan seperti Li Nanxing—yang membuka Tian Wang dessert cafe pada 2021—masih bertahan dengan konsep unik bertema mahjong, sementara rekan-rekannya seperti Vincent Ng dan Shane Pow lebih memilih beralih ke bisnis online setelah beberapa restoran tutup.
Bagi pengamat industri, fenomena ini bukan sekadar cerita sukses atau gagal, melainkan cerminan realitas bisnis F&B yang keras. “Selebriti memang punya keunggulan dalam pemasaran, tetapi itu tidak cukup untuk menutupi manajemen operasional yang lemah atau konsep yang tidak sesuai selera pasar,” ujar seorang analis ritel yang enggan disebut namanya. Di Singapura, biaya sewa dan tenaga kerja yang tinggi membuat margin keuntungan tipis, sehingga eksperimen yang gagal bisa berakibat fatal.
Menariknya, beberapa selebriti justru memilih jalur aman dengan bisnis online. Contohnya, aktris Jeanette Aw yang menjalankan Once Upon A Time—bakery online yang baru pindah ke Geylang—atau Shane Pow dengan Taiyo yang fokus pada banana bread. Model ini memungkinkan mereka menguji pasar tanpa beban sewa toko fisik. Namun, tidak semua bisnis online bertahan: Fanntasy Bakes milik Carrie Wong saat ini hiatus, sementara Yuan Collagen Soup milik Vincent Ng sudah tidak aktif sejak 2022.
Ke depan, persaingan di industri F&B Singapura diprediksi semakin ketat dengan masuknya merek internasional dan perubahan preferensi konsumen pascapandemi. Para selebriti yang ingin bertahan harus mampu membaca tren dengan cepat dan tidak bergantung semata pada popularitas. Pertanyaannya, akankah gelombang baru selebriti yang terjun ke bisnis kuliner belajar dari kegagalan pendahulunya, atau justru mengulangi siklus yang sama?



