Longsor di Chongqing Tewaskan 8 Orang, 34 Hilang: Tim Penyelamat Berjibaku dengan Cuaca Buruk
Baca dalam 60 detik
- Longsor di Pengshui County, Chongqing, pada Jumat pagi menewaskan sedikitnya 8 orang dan menyebabkan 34 lainnya hilang, dengan 10 orang berhasil diselamatkan.
- Material longsor mencapai 18.000 meter kubik, termasuk batu raksasa sebesar 3.000 meter kubik, yang mempersulit pencarian karena risiko pergerakan batu.
- Pemerintah China mengalokasikan dana darurat 30 juta yuan (sekitar Rp66 miliar) untuk pemulihan infrastruktur, sementara tim penyelamat menggunakan anjing pelacak dan alat berat.

Tim penyelamat di Chongqing, China barat daya, masih berupaya menemukan korban selamat dari longsor yang terjadi pada Jumat (17/7/2026) pagi waktu setempat. Bencana yang dipicu hujan deras ini menewaskan sedikitnya delapan orang dan menyebabkan 34 lainnya dinyatakan hilang, sementara sepuluh orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Longsor menerjang kawasan perbukitan di Kabupaten Pengshui, wilayah pinggiran Chongqing, saat material batu dan tanah dalam jumlah besar meluncur menuruni lereng dan menimbun lebih dari sepuluh bangunan tempat tinggal. Menurut laporan stasiun televisi nasional CCTV, lebih dari 1.100 warga terpaksa direlokasi ke tempat aman. Foto dan video dari Associated Press memperlihatkan batu raksasa yang ukurannya melebihi gedung bertingkat, dengan puing-puing berserakan di medan terjal.
Wang Chuanjun, Kepala Dinas Perencanaan dan Sumber Daya Alam Kabupaten Pengshui, dalam konferensi pers Jumat mengungkapkan bahwa volume total material longsor mencapai sekitar 18.000 meter kubik, dengan batu tunggal terbesar mencapai 3.000 meter kubik. Kondisi cuaca yang tidak stabil—dengan curah hujan 19,2 sentimeter tercatat di stasiun cuaca setempat dari Jumat malam hingga Sabtu pagi—sempat menghambat operasi pencarian. Meski hujan mulai mereda, tim penyelamat tetap harus bekerja ekstra hati-hati karena risiko pergerakan bongkahan batu besar yang dapat meluncur kembali.
Operasi penyelamatan dilakukan dari satu sisi bongkahan batu raksasa, namun tim selanjutnya harus memeriksa area di bawah batu tersebut—sebuah tugas berbahaya karena batu bisa menjadi tidak stabil dan bergerak. Setelah pencarian di sekitar selesai, petugas berencana mengebor batu dan mengisinya dengan bahan peledak untuk memecahnya. Selain alat berat seperti ekskavator, tim juga menggunakan anjing pelacak untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan. Relawan dengan sepeda motor membantu mengirimkan logistik kepada petugas dan warga yang terisolasi. Sejumlah warga di Pengshui melaporkan bahwa pasokan air bersih ke rumah mereka hanya tersedia pada jam-jam tertentu.
Bencana ini terjadi di dekat aliran Sungai Wujiang yang membelah pegunungan karst dengan perkampungan kecil dan terasering. Kabupaten Pengshui terletak di bagian tenggara Chongqing, berbatasan dengan Provinsi Hubei dan Guizhou. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah perbukitan dan pegunungan terhadap longsor akibat hujan ekstrem, terutama di daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera yang memiliki topografi serupa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia mencatat bahwa longsor merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi, dan perubahan iklim diprediksi akan meningkatkan intensitas hujan serta risiko longsor di masa depan.
Pemerintah China melalui Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional telah mengalokasikan dana darurat sebesar 30 juta yuan (sekitar Rp66 miliar) untuk mendukung pemulihan infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik pascabencana. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat proses evakuasi dan pencarian korban dapat diselesaikan mengingat kondisi cuaca yang masih labil, serta apakah langkah mitigasi jangka panjang—seperti pemetaan zona rawan longsor dan relokasi permukiman—akan diperkuat untuk mencegah tragedi serupa di masa mendatang.



