Bentrok Adonara Tewaskan Tiga Orang, Brimob Dikerahkan ke Flores Timur
Baca dalam 60 detik
- Kerusuhan antara dua desa di Adonara Timur, Flores Timur, menewaskan tiga warga dan membakar 20 rumah.
- Polisi menerjunkan 34 personel Brimob dari Maumere untuk berjaga di titik rawan konflik.
- Penyebab bentrokan masih diselidiki, sementara aparat memperketat patroli untuk mencegah serangan balasan.

Polisi mengerahkan puluhan personel Brimob ke Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, setelah bentrokan antarwarga dua desa menewaskan tiga orang dan menghanguskan 20 rumah pada Sabtu (18/7) pagi. Pertikaian antara kelompok pemuda Desa Narasaosina dan Desa Waiburak itu menyisakan duka dan kekhawatiran akan terjadinya gelombang kekerasan susulan.
Wakapolres Flores Timur, Kompol Ketut Mastina, mengonfirmasi bahwa 34 anggota Kompi 4 Batalyon B Brimob Maumere telah tiba di lokasi sejak Sabtu malam dan langsung melakukan patroli. Mereka ditempatkan di pos Susteran yang berada di antara dua desa yang bertikai. โSudah tiba dari semalam dan langsung lakukan patroli hingga pagi ini,โ ujar Ketut saat dihubungi, Minggu (19/7).
Ketut menambahkan, penambahan pasukan bertujuan mengantisipasi bentrokan susulan. Meski situasi dilaporkan mulai pulihโwarga kembali beraktivitas, ibadah Minggu berjalan normal, dan ekonomi perlahan bangkitโaparat tetap waspada. Ratusan personel gabungan Polri dan TNI terus berpatroli secara rutin untuk memantau pergerakan massa.
Bentrokan yang pecah sekitar pukul 06.30 WITA itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga melukai tujuh orang. Dua korban luka harus dirujuk ke RSUD Larantuka, sementara dua lainnya dievakuasi ke Lewoleba, Kabupaten Lembata. Polisi masih menyelidiki pemicu pasti kerusuhan, yang diduga dipicu oleh perselisihan lahan atau sengketa adat yang kerap muncul di wilayah NTT.
Konteks Indonesia: Konflik horizontal antarwarga di NTT, khususnya di Flores Timur, bukanlah hal baru. Sengketa tanah dan batas desa sering kali memicu kekerasan komunal yang melibatkan pembakaran rumah dan fasilitas umum. Pengerahan Brimob menjadi langkah cepat aparat untuk mencegah meluasnya konflik, namun penyelesaian jangka panjang membutuhkan mediasi adat dan penegakan hukum yang tegas.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah penebalan pasukan cukup untuk meredam dendam lama di antara kedua desa. Tanpa rekonsiliasi yang melibatkan tokoh adat dan pemerintah daerah, risiko ledakan kekerasan baru tetap mengintai.



