Banjir Bandang Raigad Hancurkan Jutaan Patung Ganesha, Perajin Terancam Bangkrut
Baca dalam 60 detik
- Banjir di Raigad, India, merusak sekitar satu juta patung Ganesha dan 3.000 bengkel kerja menjelang festival Ganesh Chaturthi.
- Industri patung Ganesha di Raigad menyerap 150.000 pekerja musiman dengan nilai penjualan tahunan 3,5 miliar rupee, menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
- Perajin kesulitan memenuhi pesanan karena bahan baku dan cetakan hancur, sementara asuransi tidak memadai untuk menutup kerugian.

Banjir bandang yang melanda Distrik Raigad, Maharashtra, India, pada awal Juli 2024 menghancurkan sekitar satu juta patung Ganesha yang siap dikirim untuk perayaan Ganesh Chaturthi, festival keagamaan terbesar umat Hindu. Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupee, dan ribuan perajin terancam kehilangan mata pencaharian.
Raigad merupakan pusat produksi patung Ganesha terbesar di India, dengan sekitar 20.000 bengkel yang memproduksi hingga delapan juta patung setiap tahunnya. Industri ini menyerap sekitar 150.000 pekerja musiman dan menghasilkan omzet tahunan sebesar 3,5 miliar rupee. Namun, curah hujan ekstrem yang mencapai 548 mm dalam tiga hariโhampir menyamai total curah hujan Juli tahun laluโmelumpuhkan produksi dan merusak infrastruktur bengkel.
"Kami kehilangan patung, cetakan, dan bahan baku. Tidak tahu bagaimana memenuhi pesanan," ujar Dilip Mhatre, seorang perajin yang sudah 30 tahun menggeluti profesi ini. Ia memperkirakan kerugian pribadinya mencapai 1,2 juta rupee. Banyak perajin lain mengalami nasib serupa; mereka terpaksa meminjam uang untuk mengembalikan uang muka pelanggan.
Presiden Asosiasi Perajin Patung Ganesha Raigad, Sachin Patil, menyatakan bahwa sekitar 3.000 bengkel terdampak langsung. Pemerintah setempat telah melakukan survei dan berjanji memberikan bantuan finansial, namun perajin meragukan kecukupan dana tersebut. Anita Patil, pemilik bengkel di Desa Kalve, mengeluhkan klaim asuransi yang hanya sekitar 10.000 rupee untuk kerugian satu juta rupee.
Proses pembuatan patung Ganesha memakan waktu hingga dua pekan untuk ukuran kecil, dan berminggu-minggu untuk patung besar. Banyak perajin kehilangan cetakan dan bahan baku seperti tanah liat dan gips, sehingga tidak bisa memulai produksi dari awal. Akibatnya, pesanan internasional terancam tertunda, memperparah perlambatan permintaan global yang sudah terjadi.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi pengingat akan kerentanan industri kreatif berbasis kerajinan tangan terhadap bencana alam. Di Tanah Air, banyak sentra kerajinan seperti gerabah di Kasongan atau patung di Bali juga bergantung pada musim dan kondisi cuaca. Risiko perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem dapat mengancam rantai pasok dan pendapatan perajin lokal. Pemerintah daerah dan pelaku industri perlu menyiapkan skema mitigasi, seperti asuransi mikro dan tempat produksi yang lebih tahan banjir.
Perajin Raigad kini berupaya menyelamatkan patung yang masih bisa diperbaiki, namun pemulihan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan hingga tahunan. Mereka berencana memperkuat bengkel dengan atap permanen dan meninggikan lantai, tetapi prioritas saat ini adalah memenuhi pesanan yang tersisa. Pertanyaannya, mampukah industri patung Ganesha Raigad bangkit kembali sebelum musim hujan berikutnya tiba?



