Monsun Menguat, Thailand Siaga Banjir: Hujan Lebat Landa Utara dan Timur Laut
Baca dalam 60 detik
- Angin monsun barat daya yang menguat menyebabkan hujan deras di Thailand utara dan timur laut pada 21-22 Juli, dengan gelombang laut mencapai dua meter.
- Badan Meteorologi Thailand memperingatkan warga di daerah rawan banjir dan petani untuk waspada terhadap genangan air serta potensi penyakit tanaman akibat kelembaban tinggi.
- Sistem tekanan rendah di Pasifik yang dipantau dapat berkembang menjadi depresi tropis dan memengaruhi cuaca regional, meski dampak langsung ke Thailand belum dipastikan.

Bangkok โ Thailand bersiap menghadapi peningkatan curah hujan signifikan pada 21-22 Juli, dengan hujan lebat diprakirakan mengguyur wilayah utara dan timur laut, disertai gelombang laut yang berbahaya serta pengawasan ketat terhadap sistem cuaca di Pasifik. Badan Meteorologi Thailand (TMD) mengumumkan peringatan ini pada Selasa sore, menekankan bahwa masyarakat di daerah rawan harus waspada terhadap potensi banjir dan tanah longsor.
Fenomena ini dipicu oleh menguatnya angin monsun barat daya yang melintasi Laut Andaman, Thailand, dan Teluk Thailand, berinteraksi dengan sel tekanan rendah di atas Vietnam utara. Kombinasi ini menghasilkan akumulasi curah hujan tinggi, terutama di provinsi-provinsi seperti Mae Hong Son, Chiang Mai, Chiang Rai, Phayao, Nan, Lamphun, Lampang, dan Tak di wilayah utara, serta Nong Khai, Bueng Kan, Sakon Nakhon, dan Nakhon Phanom di timur laut. TMD memperkirakan 60% wilayah utara dan 40% timur laut akan mengalami badai petir.
Dampak tidak hanya dirasakan di darat. Di laut, gelombang di Laut Andaman bagian atas dan Teluk Thailand atas diperkirakan mencapai satu hingga dua meter, dan bisa melampaui dua meter saat badai petir. Nelayan dan operator kapal kecil diimbau untuk tidak berlayar di area yang dilanda cuaca buruk. Sementara itu, suhu di berbagai wilayah berkisar antara 21-26 derajat Celcius di malam hari hingga 28-37 derajat Celcius pada siang hari, dengan angin barat daya bertiup 10-20 kilometer per jam.
Bagi Indonesia, kondisi cuaca ekstrem di Thailand ini patut dicermati karena pola monsun yang sama juga memengaruhi wilayah Sumatera dan Kalimantan. Peningkatan aktivitas monsun barat daya seringkali berimplikasi pada peningkatan curah hujan di Indonesia bagian barat, yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor di daerah rawan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia perlu mewaspadai perkembangan sistem tekanan rendah di Pasifik yang dapat mempengaruhi pola cuaca regional.
TMD juga merilis prakiraan cuaca pertanian 10 hari (21-30 Juli), yang menunjukkan kondisi tanah semakin basah di sebagian besar negara, meskipun masih ada kantong tanah kering di wilayah tengah. Petani di selatan, utara atas, timur laut atas dan timur, serta timur diperingatkan bahwa kelembaban tanah mendekati titik jenuh. Mereka disarankan membersihkan saluran drainase untuk mengurangi genangan air, melindungi tanaman dari busuk akar, dan memantau penyakit jamur. Sebaliknya, di wilayah tengah, utara bawah, dan timur laut tengah, curah hujan mungkin belum cukup mencapai zona akar yang lebih dalam, sehingga petani disarankan untuk terus melakukan mulsa di sekitar tanaman dan menyiapkan saluran atau tempat penampungan air hujan.
Sementara itu, sistem tekanan rendah kuat di Samudra Pasifik yang dipantau TMD diperkirakan bergerak melintasi Filipina utara pada 24-25 Juli. Meskipun belum ada indikasi dampak langsung ke Thailand, perkembangan sistem ini akan terus dipantau karena berpotensi memengaruhi kondisi cuaca regional. Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem ini akan menguat menjadi siklon tropis dan mengubah pola angin monsun, yang pada gilirannya dapat memperparah atau malah meredakan hujan di Thailand dan negara tetangga, termasuk Indonesia.



