D4vd Terjerat Kasus Pembunuhan: Bintang TikTok Berujung di Meja Hijau
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi indie pop D4vd, yang namanya melambung berkat TikTok, kini menghadapi dakwaan pembunuhan berencana terhadap kekasihnya yang masih di bawah umur.
- Jaksa penuntut mengungkap bukti mengerikan, termasuk pemotongan jenazah dengan gergaji mesin, yang diduga dilakukan untuk menutupi hubungan terlarang dan melindungi karier musiknya.
- Sidang pendahuluan akan menentukan apakah kasus ini layak dilanjutkan ke pengadilan, dengan jaksa masih mempertimbangkan tuntutan hukuman mati.

Jaksa penuntut di Los Angeles, Selasa (21/7), mulai memaparkan secara gamblang bukti-bukti dalam kasus pembunuhan yang menyeret nama David Burke, atau yang lebih dikenal sebagai D4vd, seorang musisi indie pop yang meroket berkat platform TikTok. Ia dituduh telah menusuk hingga tepas dan memutilasi kekasihnya yang masih berusia 14 tahun, Celeste Rivas Hernandez, didorong oleh ketakutan bahwa hubungan mereka akan terbongkar dan menghancurkan kariernya yang baru saja mekar.
Sidang pendahuluan yang digelar di Pengadilan Los Angeles ini menjadi ujian awal bagi jaksa untuk meyakinkan hakim bahwa bukti yang ada cukup kuat untuk membawa perkara ini ke pengadilan penuh. Burke, yang kini berusia 21 tahun, didakwa dengan pembunuhan tingkat pertama, mutilasi jenazah, dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Ia menyatakan tidak bersalah atas seluruh tuduhan tersebut.
Karier Burke memang bagaikan meteor. Pada 2022, ia menjadi sensasi TikTok dengan lagu-lagu yang direkam langsung dari ponselnya untuk video game Fortnite. Lagu hitnya, Romantic Homicide, berhasil membawanya mendapatkan kontrak rekaman dengan Interscope Records. Album studio pertamanya dirilis pada April 2025, tepat di minggu yang sama ketika Celeste dilaporkan hilang. Puncaknya, ia tampil di festival musik bergengsi Coachella pada tahun yang sama, hanya dua pekan sebelum jaksa meyakini ia melakukan pembunuhan.
Keterangan dari Detektif Kepolisian Los Angeles, Joshua Byers, menggambarkan betapa mengerikannya penemuan jenazah Celeste. Pada September 2025, petugas tempat penyitaan kendaraan di Hollywood mencium bau busuk menyengat dari sebuah mobil Tesla yang terdaftar atas nama Burke. Di dalam bagasi depan, polisi menemukan kantong mayat hitam berisi kepala dan tubuh korban. Di bawahnya, terdapat kantong sampah plastik yang berisi potongan-potongan tangan dan kaki korban. Jari telunjuk kanan Celeste bahkan memiliki tato misterius bertuliskan "SHH".
Menurut berkas pengadilan yang diajukan jaksa, pembunuhan diperkirakan terjadi pada 23 April 2025, sehari setelah pertengkaran sengit antara Burke dan Celeste. Celeste disebut mengancam akan mengungkap hubungan mereka ke publik, yang bisa menghancurkan karier Burke yang tengah menanjak. Jaksa menyebut Burke telah mengamankan sejumlah endorsement produk yang sangat menguntungkan. Dalam dakwaan, ia juga dituduh melakukan pembunuhan demi keuntungan finansial dan untuk menyingkirkan saksi kejahatan.
Jaksa menduga Burke merencanakan pembunuhan dengan dingin. Ia memesan Uber untuk menjemput Celeste ke rumahnya di Hollywood Hills. Setelah korban tiba, Burke menusuknya hingga tewas. Hasil otopsi menunjukkan korban meninggal karena "luka tusuk berganda". Lebih mengerikan lagi, jaksa mengungkapkan bahwa Burke kemudian membeli kolam renang tiup biru, dua gergaji mesin, sekop, kantong mayat, dan perlengkapan lainnya secara daring dengan nama palsu. Kolam tersebut digunakan untuk menampung darah agar tidak mengotori lantai garasi, sementara gergaji mesin dipakai untuk memotong-motong tubuh korban.
Jaksa Wilayah Los Angeles, Nathan Hochman, mengatakan pihaknya akan memanggil lebih dari sepuluh saksi dalam sidang pendahuluan yang diperkirakan berlangsung tiga hingga lima hari ke depan. Keputusan untuk menuntut hukuman mati akan diambil kemudian. Sementara itu, pengacara Burke, Blair Berk, menegaskan bahwa kliennya tidak bersalah. "Kami yakin bukti yang sebenarnya akan menunjukkan bahwa David Burke tidak membunuh Celeste Rivas Hernandez, dan dia bukan penyebab kematiannya," ujar Berk saat pembacaan dakwaan pada 20 April lalu.
Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan sisi gelap industri hiburan dan bahaya relasi kuasa yang timpang, terutama yang melibatkan anak di bawah umur. Di era digital di mana ketenaran bisa diraih dalam semalam, tekanan untuk mempertahankan citra dan karier kerap mendorong individu pada tindakan ekstrem. Pertanyaan besarnya, akankah sistem peradilan AS mampu mengungkap kebenaran di balik lapisan popularitas dan bukti yang mencekam ini?



