Spanyol Terpanggang Gelombang Panas Ketiga, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius
Baca dalam 60 detik
- Spanyol memasuki gelombang panas ketiga musim panas ini dengan suhu di atas 40°C, dipicu tekanan tinggi yang menjebak udara panas dari Afrika Utara.
- Puncak panas diperkirakan pada Kamis dengan potensi suhu ekstrem 45°C, meningkatkan risiko bagi kelompok rentan dan aktivitas luar ruangan.
- Fenomena ini memperkuat tren perubahan iklim yang memperpanjang dan memperparah gelombang panas, sejalan dengan rekor suhu paruh pertama musim panas terpanas sejak 1961.

Spanyol kembali menghadapi ancaman gelombang panas ketiga dalam musim panas ini, dengan suhu diprediksi menembus 40 derajat Celsius di sebagian besar wilayah. Badan meteorologi nasional AEMET mengonfirmasi bahwa kondisi ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas dan kering dari Afrika Utara.
Gelombang panas yang mulai melanda sejak Selasa (21/7) ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Kamis, dengan beberapa titik terisolasi berpotensi menyentuh 45 derajat Celsius. AEMET memperingatkan tingkat bahaya signifikan pada jam-jam tengah hari, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan dan kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.
Spanyol telah mengalami dua gelombang panas sebelumnya musim panas ini—satu pada akhir Juni yang memecahkan rekor suhu di Eropa, dan satu lagi pada awal Juli. Menurut AEMET, suhu rata-rata di daratan Spanyol pada paruh pertama musim panas (1 Juni–15 Juli) mencapai 24,5 derajat Celsius, lebih tinggi 3,3 derajat dari rata-rata periode referensi 1991–2020. Ini merupakan rekor terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1961.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia meningkatkan durasi, intensitas, dan frekuensi gelombang panas. Kondisi ini mengeringkan vegetasi dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Sebuah kebakaran dahsyat di provinsi Almeria, Spanyol tenggara, awal bulan ini menewaskan 13 orang, menjadikannya kebakaran hutan paling mematikan di Spanyol dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim yang juga dirasakan di kawasan tropis. Meskipun suhu ekstrem seperti di Spanyol jarang terjadi, gelombang panas di Indonesia—seperti yang pernah melanda beberapa wilayah pada 2023—menunjukkan pola serupa: peningkatan suhu rata-rata dan risiko kebakaran lahan. Data BMKG mencatat tren kenaikan suhu permukaan di Indonesia sebesar 0,03°C per tahun, sejalan dengan pemanasan global.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa siap negara-negara, termasuk Indonesia, dalam menghadapi gelombang panas yang semakin sering dan intens. Apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur kesehatan masyarakat sudah memadai untuk melindungi kelompok rentan?



