Antrean BBM Kembali Mengular di Myanmar: Harga Bensin Tembus 10.000 Kyat per Liter di Pasar Gelap
Baca dalam 60 detik
- Warga Taungoo kembali mengantre berjam-jam untuk membeli BBM setelah pasokan yang sempat stabil selama tiga bulan terganggu sejak pekan ketiga Juli.
- Harga bensin di pompa resmi hanya 3.500 kyat per liter, namun di pasar gelap melonjak hingga 10.000 kyat, memukul pekerja harian dan sopir angkutan.
- Krisis BBM di Myanmar memperlihatkan kerapuhan distribusi energi di tengah konflik, menjadi pengingat bagi Indonesia akan pentingnya ketahanan pasokan domestik.

Antrean panjang kembali terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Taungoo, Region Bago, Myanmar, setelah harga bensin di pasar gelap meroket hingga sekitar 10.000 kyat (setara US$4,76) per liter. Kondisi ini memicu kesulitan baru bagi warga yang sebelumnya menikmati pasokan relatif lancar selama tiga bulan terakhir.
Menurut keterangan warga setempat, sejak sistem penjualan berbasis kode QR diperkenalkan pada Maret-April lalu, pembeli kerap menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengisi tangki kendaraan. Namun, selama tiga bulan berikutnya, pasokan sempat membaik dan waktu tunggu berkurang drastis. Sayangnya, sekitar pekan ketiga Juli, kelangkaan kembali terjadi, memaksa warga kembali berjibaku dengan antrean panjang.
Seorang sopir bus sekolah yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa harga bensin di pompa resmi hanya sekitar 3.500 kyat per liter, tetapi di luar sangat sulit diperoleh. โKami harus membeli di pasar gelap dengan harga 9.500 hingga 10.000 kyat per liter. Kenaikan ini sangat memberatkan kami, para sopir angkutan dan pekerja harian,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa sebelumnya harga sempat turun ke level 5.000 kyat selama satu hingga dua bulan, tetapi kini melonjak lagi karena alasan kelangkaan.
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi di Myanmar. Sejak kudeta militer 2021, sektor energi negara itu mengalami tekanan berat akibat sanksi internasional, konflik bersenjata, dan kerusakan infrastruktur. Sistem distribusi BBM yang bergantung pada impor dan logistik yang rentan kerap menjadi sasaran gangguan. Pengamat energi Asia Tenggara menilai bahwa kelangkaan BBM di Myanmar mencerminkan kegagalan tata kelola dan ketidakmampuan pemerintah militer menjamin pasokan dasar bagi warganya.
Bagi Indonesia, situasi di Myanmar menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi energi dan penguatan cadangan strategis. Meskipun Indonesia memiliki produksi minyak bumi, ketergantungan pada impor BBM masih tinggi. Gangguan pasokan di negara tetangga bisa berdampak pada stabilitas harga regional, terutama jika ketegangan geopolitik meluas. Pemerintah Indonesia perlu terus memonitor rantai pasok energi nasional dan mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk mengurangi kerentanan.
Ke depan, warga Taungoo dan kota-kota lain di Myanmar masih harus menghadapi ketidakpastian. Jika pasokan tidak segera pulih, bukan tidak mungkin harga pasar gelap akan terus merangkak naik, memperparah beban ekonomi masyarakat yang sudah terpuruk. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana pemerintah militer mampu mengendalikan distribusi BBM di tengah konflik yang masih berkecamuk?



