Mario Andramartik dan Perjuangan Menyelamatkan Warisan Megalitik Pasemah dari Ancaman Tambang
Baca dalam 60 detik
- Seorang mantan pekerja kapal pesiar, Mario Andramartik, mendedikasikan diri sejak 2009 untuk meneliti dan mempromosikan situs megalitik Pasemah seluas 8.000 hektar di Sumatera Selatan.
- Kawasan ini memiliki 15 ragam bentuk megalitik, terbanyak di dunia, namun baru enam dari 101 titik yang ditetapkan sebagai cagar budaya.
- Ancaman perkebunan monokultur dan pertambangan batu bara mendesak pemerintah segera melakukan pemetaan dan perlindungan situs sebelum terlambat.

Di balik hiruk-pikuk industri ekstraktif Sumatera Selatan, seorang pria paruh baya bernama Mario Andramartik justru sibuk menelusuri bukit dan lembah untuk mendokumentasikan warisan megalitik yang diyakini sebagai salah satu yang terlengkap di dunia. Lelaki kelahiran Lahat, 31 Juli 1970, ini bukan arkeolog formalโia mantan kru kapal pesiar Holland America Lineโtetapi kecintaannya pada peradaban kuno Pasemah telah membawanya menjadi anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat dan rujukan bagi para peneliti.
Peradaban megalitik Pasemah membentang seluas 8.000 hektar meliputi Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang. Berdasarkan catatan para ahli, peradaban ini berkembang antara 2.500 hingga 1.500 tahun Sebelum Masehi. Yang membuatnya istimewa, menurut Mario, adalah keragaman bentuknya. "Megalitik Pasemah mempunyai 15 ragam bentuk, coba bandingkan dengan megalitik di Easter Island, Stonehenge, Carnac, Poso, Gunung Padang, dan lainnya. Mereka tidak sebanyak ragam bentuk megalitik Pasemah," ujarnya saat mendampingi tim Mongabay Indonesia pada pertengahan Juni 2026 lalu.
Data terakhir mencatat sekitar 1.165 benda megalitik tersebar di 101 titik, meliputi arca, menhir, dolmen, bilik batu, hingga tempayan kubur. Namun, ironisnya, baru enam situs yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Artinya, sebagian besar peninggalan ini belum memiliki perlindungan hukum yang memadai. Padahal, sejak 1849 kawasan ini sudah menarik perhatian ilmuwan dunia seperti Ullman, van der Hoop, hingga RP Sujono.
Mario bukan sekadar pengagum. Ia mempelajari literatur klasik seperti "Megalithic Remains in South Sumatra" karya van der Hoop (1932) dan berdiskusi dengan puluhan arkeolog. Pengetahuan otodidaknya membuat ia dipercaya mendampingi peneliti, jurnalis, dan wisatawan. "Saya senang mendampingi siapa pun, selain dapat saling belajar, juga membangun silaturahmi. Dan tentunya dapat memberikan dampak baik bagi pelestarian kekayaan megalitik Pasemah," katanya.
Dari pengamatannya, manusia megalitik Pasemah hidup harmonis dengan alam. Mereka mendirikan pemukiman dekat sumber air namun aman dari banjir. Arca-arca yang menggabungkan tubuh manusia dengan harimau, gajah, atau buaya menunjukkan hubungan saling membutuhkan, bukan dominasi. "Hubungan harmonis manusia dengan alam pada masyarakat Pasemah terlihat dari simbol Mendale Kencane Mandulike, yang menyatakan keharmonisan manusia dengan alam semesta merupakan satu kekuatan dan ketenangan," jelas Mario, yang pada 2024 menerima penghargaan sebagai tokoh pegiat lingkungan dari Pemerintah Kabupaten Lahat.
Ancaman terbesar saat ini, menurut arkeolog BRIN Sondang M Siregar, adalah ekspansi perkebunan monokultur dan pertambangan batu bara. "Segera lakukan kajian penetapan cagar budaya di tingkat kabupaten, sebelum ke tingkat nasional. Jangan sampai keburu dijadikan tambang dan kebun," tegasnya. Ia mendesak pemetaan sebaran tinggalan megalitik di area konsesi, dan jika ditemukan cagar budaya, kegiatan ekonomi harus dihentikan.
Agung Saputro, Pelaksana Harian Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, mengakui proses penetapan cagar budaya masih berjalan. "Saat ini banyak yang dalam proses, termasuk yang diusulkan menjadi Cagar Budaya Nasional," ujarnya. Namun, dengan luasnya kawasan dan tekanan investasi, pertanyaan besarnya adalah: apakah penetapan status bisa mengejar laju ekspansi tambang dan sawit? Jika tidak, warisan peradaban yang telah bertahan ribuan tahun ini bisa lenyap dalam sekejap.



