Pusat Pelatihan Eksorsis di Filipina: Antara Iman dan Stigma Kesehatan Mental
Baca dalam 60 detik
- Filipina resmi membuka pusat pelatihan eksorsis pertama di Asia, merespons lonjakan kasus yang dikaitkan dengan trauma sosial dan migrasi tenaga kerja.
- Para psikiater mengkhawatirkan praktik ini memperlambat penanganan medis, mengingat rasio psikiater di Filipina sangat rendah, hanya satu per 200.000 penduduk.
- Pendeta pengelola pusat mengakui bahwa perbaikan layanan kesehatan mental nasional dapat mengurangi jumlah kasus yang memerlukan ritual pengusiran setan.

Di tengah hiruk-pikuk Metro Manila, sebuah pusat pelatihan eksorsis—satu-satunya di Asia—mulai beroperasi sejak lima bulan lalu. Saint Michael Centre for Spiritual Liberation and Exorcism hadir bukan sekadar tempat ritual pengusiran setan, melainkan juga sekolah bagi para rohaniwan dari berbagai negara. Pendirinya, Pastor Jose Francisco Syquia, menyebut lonjakan permintaan sebagai alasan utama: “Kasus terus menumpuk.”
Fasilitas dua lantai yang dibangun dari sumbangan keluarga yang pernah mengalami sendiri fenomena kerasukan ini memiliki ruang observasi dengan kaca satu arah, kapel, dan kamar bagi pastor tamu. Yang membuatnya unik, menurut Syquia, adalah fungsi sebagai pusat pelatihan. “Saya tidak tahu pusat lain di dunia yang melatih eksorsis,” ujarnya. Pastor dari Singapura, Malaysia, Kamboja, dan India sudah antre untuk mengikuti pelatihan.
Inti dari pelatihan ini adalah kemampuan membedakan masalah psikologis dan spiritual. Meski tidak berada di bawah pengawasan ketat Vatikan, pusat ini mengikuti aturan gereja yang mewajibkan pemeriksaan oleh profesional kesehatan mental. Syquia mengaku bekerja sama dengan psikolog klinis, psikiater, dan neurolog. Namun ia tetap yakin bisa mengenali kerasukan setan: “Anda akan melihat perubahan kesadaran. Sesuatu yang lain mengambil alih seseorang.”
Namun pendekatan ini memicu kekhawatiran di kalangan psikiater. Christopher French, psikolog emeritus dari University of London, mengingatkan bahwa menerima penjelasan supranatural justru berbahaya karena menunda penanganan medis. Kondisi seperti skizofrenia dan sindrom Tourette dulunya juga dianggap sebagai kerasukan. Di Filipina, stigma terhadap psikiater masih kuat. Dr. Kathryn Tan, psikiater di Manila, mengatakan banyak pasiennya datang setelah mengunjungi dukun tradisional. “Jika dibawa ke psikiater, ada rasa malu. Tapi jika ke eksorsis, Anda dianggap korban,” jelasnya.
Baik Tan maupun French sepakat bahwa sensitivitas budaya harus dihormati dalam penanganan. French bahkan mengakui eksorsisme bisa memberikan efek plasebo. Tan, yang mengaku berpikiran terbuka terhadap hal gaib, melihat fenomena ini sebagai upaya manusia mengendalikan hal yang tak dipahami. Sementara itu, Syquia optimis sains dan iman bisa berjalan beriringan. Ia bahkan mendukung investasi lebih besar pada kesehatan mental: “Jika psikologi dan psikiatri dipupuk dengan baik, kasus eksorsisme akan berkurang. Sains adalah anugerah Tuhan.”
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat kuatnya tradisi spiritual dan terbatasnya akses layanan kesehatan jiwa. Di tengah minimnya psikiater—rasio di Indonesia juga rendah—masyarakat kerap memilih jalur spiritual. Pertanyaannya, akankah pendekatan integratif seperti di Filipina bisa menjadi model, atau justru memperkuat stigma?



