Monorel Baru di Pulau Oshima: Simbol Kebangkitan Pariwisata Pasca-Tsunami Jepang
Baca dalam 60 detik
- Monorel sepanjang 235 meter di Pulau Oshima, Miyagi, resmi beroperasi untuk menggantikan kursi gantung yang hancur akibat tsunami 2011.
- Proyek ini diharapkan menarik wisatawan domestik dan mancanegara, dengan tarif 1.200 yen untuk dewasa dan pemandangan laut serta tambak tiram.
- Keberhasilan infrastruktur semacam ini dapat menjadi referensi bagi daerah rawan bencana di Indonesia yang ingin membangun kembali sektor pariwisata.

Pemerintah Kota Kesennuma, Prefektur Miyagi, Jepang, meresmikan monorel di Pulau Oshima pada Sabtu (19/7) sebagai bagian dari upaya pemulihan pariwisata pasca-bencana gempa dan tsunami 2011 yang meluluhlantakkan kawasan tersebut. Infrastruktur ini menjadi simbol baru kebangkitan ekonomi lokal setelah 14 tahun lalu gelombang raksasa menghancurkan sebagian besar fasilitas umum, termasuk kursi gantung di Gunung Kameyama.
Monorel tersebut menghubungkan titik tengah Gunung Kameyama setinggi 235 meter dengan puncaknya, di mana terdapat teras observasi, jalur pejalan kaki, dan kafe. Sebelumnya, akses ke puncak hanya mengandalkan kursi gantung yang hancur akibat kebakaran pasca-tsunami. Keunggulan monorel dibanding pendahulunya adalah kemampuan beroperasi sepanjang tahun tanpa terganggu cuaca buruk, menjadikannya andalan baru bagi sektor pariwisata yang lesu.
Wali Kota Kesennuma, Shigeru Sugawara, menegaskan bahwa monorel ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan pernyataan bahwa daerahnya siap menyambut kembali wisatawan. โKami telah membangun sesuatu yang baik dan ingin menunjukkan daya tarik kota ini,โ ujarnya dalam seremoni peresmian. Harapannya, atraksi ini mampu memulihkan citra Kesennuma yang sempat terpuruk akibat bencana nuklir Fukushima yang terjadi bersamaan.
Dalam uji coba, pengunjung disuguhi pemandangan tambak tiram di bawah dan pusat kota dari ketinggian. Seorang siswa berusia 10 tahun yang diundang dalam acara tersebut mengaku ingin kembali bersama keluarganya. Antusiasme serupa diharapkan muncul dari wisatawan domestik maupun mancanegara, mengingat Pulau Oshima merupakan pulau berpenghuni terbesar di kawasan Tohoku.
Bagi Indonesia, proyek ini menawarkan pelajaran berharga. Daerah rawan bencana seperti Aceh, Lombok, atau Palu yang pernah dilanda gempa dan tsunami bisa meniru pendekatan Jepang dalam membangun infrastruktur wisata yang tahan cuaca dan sekaligus menjadi ikon pemulihan. Monorel di Kesennuma membuktikan bahwa investasi pada aksesibilitas dan daya tarik alam dapat menjadi motor penggerak ekonomi pasca-bencana, asalkan didukung oleh perencanaan matang dan partisipasi masyarakat.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga okupansi pengunjung agar investasi ini tidak sia-sia. Dengan tarif yang relatif terjangkau dan pemandangan yang eksotis, bukan tidak mungkin Kesennuma akan menjadi destinasi wajib bagi wisatawan yang melancong ke Jepang timur laut. Pertanyaannya, apakah daerah-daerah di Indonesia siap meniru langkah berani ini?



