BPOM Resmikan Bio-TCV: Vaksin Tifoid Karya Anak Bangsa, Langkah Menuju Kemandirian Vaksin Nasional
Baca dalam 60 detik
- Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat buatan Indonesia, resmi diluncurkan sebagai hasil kolaborasi FKUI, RSCM, dan Bio Farma.
- Vaksin ini ditargetkan menembus pasar global melalui sertifikasi WHO Prequalification, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok vaksin dunia.
- BPOM mengawal proses dengan mekanisme accelerated review, menandakan kesiapan sistem regulasi dalam negeri mendukung inovasi kesehatan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meresmikan peluncuran Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat pertama yang sepenuhnya dikembangkan melalui kolaborasi dalam negeri. Langkah ini menjadi tonggak baru dalam upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada vaksin impor sekaligus membuka peluang ekspor produk kesehatan bernilai tinggi.
Bio-TCV merupakan hasil riset bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan PT Bio Farma. Vaksin ini dirancang untuk memberikan imunisasi aktif terhadap demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Tidak seperti vaksin tifoid konvensional, Bio-TCV dapat diberikan mulai bayi usia enam bulan hingga dewasa, menjangkau kelompok usia yang sebelumnya sulit dilindungi.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa Bio-TCV bukan sekadar produk baru, melainkan simbol perubahan ekosistem riset dan industri kesehatan di Indonesia. "Riset, industri, dan pemerintah kini berjalan dalam satu kesatuan, tidak lagi terpisah," ujarnya dalam sambutan peluncuran. Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan bahwa Indonesia mampu mentransformasi hasil penelitian menjadi produk yang siap digunakan masyarakat.
Proses pengembangan Bio-TCV berlangsung lebih dari satu dekade. PT Bio Farma menjalin kerja sama dengan IVI sejak 2010, lalu melakukan transfer teknologi pada 2013. Setelah melalui serangkaian uji klinis yang ketat, vaksin ini akhirnya siap diproduksi secara mandiri. BPOM sendiri berperan aktif sejak tahap awal, mulai dari pendampingan uji klinis, standardisasi produk, hingga evaluasi akhir. Semua penilaian dilakukan melalui mekanisme accelerated review, yang memungkinkan percepatan regulasi tanpa mengurangi ketelitian ilmiah.
Kehadiran Bio-TCV memiliki implikasi strategis bagi Indonesia. Di dalam negeri, vaksin ini memperkuat program imunisasi nasional, terutama untuk kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak. Di tingkat global, jika berhasil lolos WHO Prequalification, Bio-TCV akan membuka akses pasar internasional dan menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok vaksin dunia. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai kemandirian sektor kesehatan melalui penguasaan riset, teknologi, produksi, dan sistem regulasi yang kredibel.
Bagi Indonesia, keberhasilan Bio-TCV juga menjadi ujian bagi ekosistem inovasi kesehatan nasional. Pertanyaan besarnya adalah apakah model kolaborasi ini dapat direplikasi untuk vaksin dan obat lain, mengingat masih banyak penyakit endemis yang membutuhkan solusi serupa. Dengan dukungan regulasi yang adaptif dan komitmen lintas sektor, bukan tidak mungkin Indonesia akan melahirkan lebih banyak produk kesehatan buatan sendiri yang berdaya saing global.



