Keith Richards Kenang Amy Winehouse: Potensi Besar yang Berakhir Tragis
Baca dalam 60 detik
- Gitaris Rolling Stones, Keith Richards, menyebut Amy Winehouse sebagai salah satu vokalis terbaik Inggris yang kehilangan potensi besar akibat kematian dini.
- The Rolling Stones baru saja merilis cover 'You Know I’m No Good' di album Foreign Tongues, terinspirasi dari kolaborasi panggung dengan Winehouse pada 2007.
- Kematian Winehouse pada 2011 akibat keracunan alkohol menyisakan duka mendalam di industri musik global, termasuk pengaruhnya terhadap musisi Indonesia.

Keith Richards, gitaris legendaris Rolling Stones, menyebut Amy Winehouse sebagai "salah satu yang terbaik yang pernah lahir dari Inggris" yang kisah hidupnya berakhir tragis sebelum potensi besarnya tergapai sepenuhnya. Dalam wawancara terbaru dengan Billboard, Richards mengungkapkan kekagumannya pada mendiang penyanyi yang meninggal pada 2011 akibat keracunan alkohol.
Pernyataan itu muncul setelah Rolling Stones merilis album terbaru mereka, Foreign Tongues, yang memuat lagu cover You Know I’m No Good—salah satu hits Amy Winehouse. Richards mengaku ide cover tersebut muncul secara spontan saat sesi diskusi dengan vokalis Mick Jagger dan produser Andrew Watt. "Kami dulu band cover, jadi kalau ada satu lagu yang ingin kami cover sekarang, apa itu? Dan Amy muncul sebagai pilihan utama," kata Richards.
Keputusan Rolling Stones membawakan ulang lagu Winehouse bukan tanpa alasan. Mick Jagger, yang pernah berduet dengan Amy di atas panggung Isle of Wight Festival 2007 membawakan Ain’t Too Proud to Beg milik The Temptations, merasa lagu itu sangat cocok dengan gaya mereka. "Saya selalu suka lagu itu. Hampir saja saya merasa bisa menulisnya sendiri. Melodi harmonika minor sangat organik," ujar Jagger.
Kematian Amy Winehouse menjadi salah satu tragedi paling menyedihkan dalam industri musik modern. Richards menggambarkannya sebagai "kisah sedih" yang menyisakan banyak pertanyaan tentang apa yang bisa dicapai penyanyi itu jika masih hidup. "Dia punya begitu banyak potensi yang belum tergali," tambahnya.
Di Indonesia, pengaruh Amy Winehouse terasa kuat di kalangan musisi jazz dan soul. Vokalis seperti Andien dan Monita Tahalea kerap menyebut Amy sebagai inspirasi. Namun, kisahnya juga menjadi pengingat akan bahaya penyalahgunaan alkohol dan tekanan mental yang kerap menghantui artis muda. Kasus serupa di Tanah Air, seperti meninggalnya penyaji musik religi atau musisi indie karena depresi, menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental di industri hiburan masih kurang mendapat perhatian.
Menurut catatan koroner, saat ditemukan, tubuh Amy sudah tidak bernyawa di tempat tidur dengan botol-botol vodka kosong berserakan di lantai. Ia sempat menjalani masa abstinen, namun kambuh dan minum berlebihan hingga merenggut nyawanya sendiri. "Dia secara sukarela mengonsumsi alkohol, sebuah tindakan yang berubah menjadi tak terduga dan menyebabkan kematiannya," ujar Dr. Shirley Radcliffe, koroner St Pancras.
Kini, hampir 14 tahun setelah kepergiannya, musik Amy Winehouse tetap hidup melalui cover yang dilakukan oleh musisi lintas generasi. Pertanyaannya, akankah industri musik belajar dari tragedi ini untuk lebih peduli pada kesejahteraan mental para artisnya?



