Caitlin Clark Ukir Sejarah WNBA: 45 Poin dan 10 Asis dalam Satu Laga
Baca dalam 60 detik
- Caitlin Clark menjadi pemain pertama WNBA yang mencetak lebih dari 40 poin dan 10 asis dalam satu pertandingan.
- Rekor tersebut dicetak saat Indiana Fever mengalahkan Seattle Storm dengan skor 110-107, diwarnai drama akhir yang menegangkan.
- Pencapaian ini muncul di tengah kontroversi perlakuan terhadap Clark yang disebut sebagai 'bola politik' oleh Komisaris NBA.

Caitlin Clark kembali menorehkan namanya dalam buku rekor WNBA. Pemain berusia 24 tahun itu menjadi yang pertama dalam sejarah liga yang berhasil mengemas lebih dari 40 poin dan 10 asis dalam satu pertandingan, saat Indiana Fever menaklukkan Seattle Storm 110-107 di Gainbridge Fieldhouse, Indianapolis, Jumat malam waktu setempat.
Clark, yang terpilih sebagai Rookie of the Year 2024, mencatatkan 45 poin dan 10 asis — tertinggi dalam kariernya — serta lima double-double musim ini. Ia juga sempurna dalam lemparan bebas dengan 17 dari 19 percobaan, dan enam tembakan tiga angka yang krusial di kuarter keempat. Kedua tim sempat imbang 102-102 dengan sisa 60 detik, sebelum Fever memastikan kemenangan.
“Beberapa malam, Anda tahu Anda memilikinya — bahkan sebelum bola dilempar,” ujar Clark. “Saya merasa ini akan menjadi malam seperti itu. Anda harus percaya dan memvisualisasikannya.” Pelatih Fever, Stephanie White, menyebut penampilan Clark “spesial” dan “surealis”.
Di kubu Seattle, Awa Fam (20 tahun) juga mencatat sejarah sebagai pemain termuda yang mencetak empat tembakan tiga angka dalam satu kuarter. Dominique Malonga menyumbang 28 poin dan 14 rebound, namun tak cukup menghindarkan Storm dari kekalahan — meski mereka mencatat rekor tim untuk poin terbanyak dalam kekalahan waktu normal.
Rekor ini muncul sehari setelah Komisaris NBA Adam Silver menyebut Clark sebagai “bola politik” dalam sebuah panel di New York. Silver menyesalkan bahwa perdebatan seputar Clark telah bergeser dari basket ke isu politik dan budaya Amerika Serikat. “Dia ingin fokus menjadi pemain terbaik, tapi dia dijadikan bola politik. Ini sangat tidak adil baginya,” kata Silver.
Komentar Silver merujuk pada insiden bulan lalu ketika Alyssa Thomas dari Phoenix Mercury dihukum larangan satu pertandingan dan denda $1.000 karena diduga melukai Clark. Sebelas anggota parlemen Partai Republik kemudian mengirim surat kepada Komisaris WNBA Cathy Engelbert, menuntut akuntabilitas dan menyatakan kekhawatiran bahwa serangan terhadap Clark mungkin bermotif rasial. Komentator politik sayap kanan juga ikut bersuara, mengaitkan perlakuan keras terhadap Clark dengan rasisme dan kecemburuan.
Bagi penggemar basket Indonesia, fenomena Clark menjadi cerminan bagaimana olahraga bisa menjadi ajang perdebatan sosial yang lebih luas. Di Indonesia, isu serupa kerap muncul ketika atlet perempuan mendapat perlakuan tidak adil atau menjadi pusat kontroversi politik. Namun, Clark sendiri memilih untuk tetap fokus di lapangan, membuktikan bahwa prestasi adalah jawaban terbaik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Clark mempertahankan performa ini di tengah tekanan ekstra dari lawan dan sorotan publik? Ataukah ia akan terus menjadi simbol perpecahan yang melampaui batas lapangan basket?



