SEAB Bantah Kecurangan Ujian Lisan O-Level: Pertanyaan Sama untuk Semua
Baca dalam 60 detik
- SEAB memastikan tidak ada perbedaan soal ujian lisan O-Level Bahasa Inggris setelah investigasi menyusul keluhan di media sosial.
- Sistem e-Examination yang terpusat dan verifikasi pra-ujian menjadi kunci menjamin keseragaman materi ujian bagi 5.000 peserta.
- Kasus ini menunjukkan pentingnya transparansi dan prosedur ketat dalam penyelenggaraan ujian berskala besar, relevan bagi Indonesia yang tengah mengadopsi ujian digital.

Singapore Examinations and Assessment Board (SEAB) memastikan tidak ada kecurangan dalam ujian lisan GCE O-Level Bahasa Inggris yang digelar pada Rabu (15/7). Pernyataan ini dikeluarkan setelah beredar keluhan di media sosial yang menuding adanya perbedaan soal yang tampil di layar peserta dengan yang dilihat penguji.
Investigasi dilakukan SEAB setelah menerima laporan dari berbagai pihak. Sekitar 5.000 peserta mengikuti ujian lisan pada sesi pagi hari itu. Dalam klarifikasinya, SEAB menegaskan bahwa soal yang ditampilkan di layar peserta identik dengan yang ada di layar penguji. "Temuan mengonfirmasi tidak ada perbedaan," demikian pernyataan resmi SEAB yang dikutip CNA.
Menariknya, SEAB juga mencatat bahwa beberapa komentar daring justru mengakui bahwa mereka salah membaca petunjuk pada awalnya. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi publik bisa keliru, terutama dalam situasi tekanan tinggi seperti ujian. SEAB menekankan bahwa sistem e-Examination yang digunakan hanya merilis satu versi video dan soal untuk setiap sesi ujian ke seluruh pusat ujian. Dengan demikian, semua peserta dan penguji mengakses konten yang sama persis.
Ujian lisan O-Level Bahasa Inggris terdiri dari dua bagian: respons terencana dan interaksi lisan. Pada bagian pertama, peserta memberikan presentasi berdasarkan video yang ditayangkan. Selanjutnya, mereka berdiskusi dengan penguji mengenai topik dari video yang sama. SEAB menjamin bahwa semua peserta dinilai secara adil berdasarkan rubrik penilaian yang telah ditetapkan. Para penguji adalah guru berpengalaman yang telah melalui pelatihan standarisasi sebelum bertugas.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya prosedur dan transparansi dalam penyelenggaraan ujian berskala besar. Di Indonesia, adopsi ujian berbasis komputer (CBT) seperti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) juga menghadapi tantangan serupa, terutama dalam hal keamanan dan keseragaman soal. Pengalaman SEAB dalam menangani keluhan dan melakukan investigasi cepat dapat menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggara ujian di Tanah Air.
Ke depan, SEAB berkomitmen untuk terus memantau pelaksanaan ujian dan memastikan pengalaman penilaian yang adil bagi semua kandidat. Pertanyaan yang muncul: apakah sistem verifikasi yang ada sudah cukup untuk mengantisipasi kesalahan teknis atau persepsi publik? Ataukah perlu ada mekanisme tambahan, seperti rekaman layar atau audit independen, untuk meningkatkan kepercayaan peserta?



