Jalur Maglev Tokyo-Nagoya Terganjal 8,9 Km: Kesepakatan Akhirnya Tercapai
Baca dalam 60 detik
- JR Central dan Prefektur Shizuoka menandatangani perjanjian yang membuka jalan bagi konstruksi terowongan Southern Alps, satu-satunya seksi maglev Tokyo-Nagoya yang belum dikerjakan.
- Kesepakatan ini mengakhiri penolakan bertahun-tahun dari gubernur sebelumnya yang khawatir terhadap dampak lingkungan pada sumber air Sungai Oi.
- Dengan target awal 2027 yang sudah ditinggalkan, tanggal operasional baru masih belum pasti, namun konstruksi bisa dimulai tahun ini.

Setelah bertahun-tahun terhambat oleh sengketa lingkungan, proyek kereta maglev Tokyo-Nagoya akhirnya mendapatkan lampu hijau untuk seksi terakhir yang belum dibangun. Central Japan Railway Co. (JR Central) dan Pemerintah Prefektur Shizuoka menandatangani kesepakatan pada Sabtu lalu, mengakhiri kebuntuan yang sempat membuat masa depan jalur supercepat ini tidak menentu.
Kesepakatan tersebut mencakup pembangunan terowongan Southern Alps sepanjang 8,9 kilometer yang melintasi tiga prefektur: Yamanashi, Shizuoka, dan Nagano. Terowongan ini merupakan satu-satunya bagian dari jalur maglev Tokyo–Nagoya yang belum tersentuh alat berat. Dengan ditandatanganinya perjanjian, JR Central menyatakan siap memulai konstruksi dalam tahun ini.
“Kami akan segera bersiap memulai pembangunan. Semua langkah konservasi lingkungan yang dijanjikan akan kami jalankan, termasuk pemantauan ketat,” ujar Presiden JR Central Shunsuke Niwa dalam seremoni penandatanganan resmi. Sementara itu, Gubernur Shizuoka Yasutomo Suzuki menegaskan bahwa pihaknya akan mengawasi setiap langkah JR Central untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan.
Perjanjian ini didasarkan pada ordinan konservasi lingkungan alam prefektur yang mewajibkan JR Central untuk menjamin ketersediaan air setara dengan volume air tanah yang diperkirakan keluar dari terowongan. Salah satu langkah konkretnya adalah membatasi pengambilan air di bendungan hulu Sungai Oi, sumber irigasi vital bagi sawah dan perkebunan teh khas Shizuoka. Perusahaan juga harus menghindari dan memitigasi dampak buruk terhadap lingkungan Pegunungan Alpen Selatan, membuang tanah galian secara tepat, serta menghentikan konstruksi seketika jika terjadi kerusakan lingkungan tak terduga.
Penolakan dari mantan Gubernur Heita Kawakatsu yang berlangsung bertahun-tahun menjadi batu sandungan utama proyek ini. Kekhawatiran akan berkurangnya debit Sungai Oi akibat penggalian terowongan sempat membuat JR Central harus menunda target operasional 2027. Pada Maret 2024, perusahaan secara resmi mengakui tidak mungkin memenuhi tenggat tersebut. Kini, dengan gubernur baru yang lebih akomodatif, proyek kembali bergulir meski tanggal operasional baru belum ditentukan.
Bagi Indonesia, proyek maglev Jepang ini menjadi contoh bagaimana megaproyek transportasi harus berhadapan dengan isu lingkungan dan tata kelola air. Di dalam negeri, proyek kereta cepat Whoosh Jakarta–Bandung juga sempat menghadapi tantangan serupa terkait dampak lingkungan dan pembebasan lahan. Pengalaman Jepang dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologi bisa menjadi pelajaran berharga, terutama mengingat Indonesia tengah mengembangkan kereta cepat Jakarta–Surabaya dan potensi jalur maglev di masa depan.
Ke depan, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah maglev Tokyo–Nagoya akan dibangun, melainkan kapan tepatnya penumpang bisa menikmati perjalanan 40 menit antara dua kota terbesar Jepang itu. JR Central masih harus membuktikan komitmennya terhadap konservasi lingkungan, sementara Shizuoka akan terus mengawasi. Apakah proyek ini bisa selesai sebelum Olimpiade berikutnya? Atau akankah tantangan teknis dan politik kembali mengulur waktu?



