Bocah SD Boyolali Ibrahim Al Abrar Berhasil Bobol Sistem Keamanan NASA
Baca dalam 60 detik
- Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD asal Boyolali, menemukan celah keamanan di domain publik NASA dan mendapat apresiasi resmi.
- Temuan berupa broken link hijacking dilaporkan melalui program VDP NASA dan terverifikasi setelah hampir dua bulan.
- Prestasi ini diharapkan memotivasi anak muda Indonesia untuk mengembangkan keterampilan keamanan siber secara otodidak.

Seorang bocah kelas 6 SD asal Boyolali, Jawa Tengah, Ibrahim Al Abrar, berhasil menembus sistem keamanan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan mendapatkan surat apresiasi resmi dari lembaga tersebut. Temuan celah keamanan ini menjadi bukti bahwa talenta digital Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Ibrahim, yang akrab disapa Ibra, adalah siswa SDN 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu. Ketertarikannya pada dunia teknologi berawal dari hobi bermain game. Dengan dukungan orang tua, ia belajar membuat game secara otodidak melalui coding. Dalam enam bulan terakhir, ia mendalami keamanan siber melalui YouTube, kecerdasan buatan, dan sumber belajar daring lainnya.
"Cybersecurity itu dapat saran-saran kakak-kakak online," ujar Ibra. Ia terinspirasi dari berita-berita tentang peretas yang berhasil menemukan celah keamanan di NASA. Kemampuannya membawanya menemukan kerentanan berupa broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA. Temuan itu dilaporkan melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) milik NASA dan berhasil diverifikasi.
Ayah Ibra, Aminuddin Salas, yang berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan, menceritakan bahwa proses pelaporan memakan waktu hampir dua bulan sebelum akhirnya mendapat balasan. "Kemarin bisa dapat sertifikat NASA itu karena nyari kerentanan di web NASA. Menemukan broken link hijacking. Terus dilaporkan lewat VDP. Lapornya sebenarnya sudah hampir 2 bulan, tapi baru dibalas tanggal 9 Juli, dapat sertifikat itu," katanya.
Pencapaian Ibra menjadi sorotan di tengah meningkatnya kebutuhan akan ahli keamanan siber di Indonesia. Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Indonesia masih kekurangan ribuan tenaga profesional di bidang ini. Kisah Ibra menunjukkan bahwa akses internet dan sumber belajar gratis dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk menguasai keterampilan tersebut.
Ke depan, Ibra bercita-cita menjadi profesional keamanan siber. Orang tuanya berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi putranya dan anak-anak lain. "Harapannya bisa tambah semangat habis dapat itu. Mungkin ke depannya bisa dapat bug bounty, biar bisa tambah semangat lagi. Karena kan ke depannya kalau dia memang pingin jadi cybersecurity profesional itu berarti sudah ngarahnya ke pekerjaan," ujar Aminudin. Ia menambahkan, "Dan mungkin bisa jadi motivasi untuk anak-anak lain yang juga suka IT, ternyata kalau sebenarnya ada niat belajar itu semuanya sekarang bisa, mudah gitu. Ada internet, ada AI, ada YouTube. Tinggal niat anaknya masing-masing."
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pemerintah dan institusi pendidikan Indonesia mampu menangkap momentum ini untuk memperkuat ekosistem keamanan siber nasional? Atau justru talenta seperti Ibra akan lebih dulu direbut oleh perusahaan global?



