Anak Pekerja di Filipina Meningkat: Kemiskinan dan Dampak Pandemi Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Jumlah anak usia 5-17 tahun yang bekerja di Filipina naik 0,8% menjadi 868.540 pada 2025, didorong oleh kemiskinan dan biaya hidup tinggi.
- Anak laki-laki mendominasi dengan 61,6%, dan mayoritas berada di kelompok usia 15-17 tahun, mencerminkan kerentanan remaja terhadap pekerjaan informal.
- Para ekonom memperingatkan bahwa tren ini dapat mengancam masa depan generasi muda dan membutuhkan intervensi kebijakan yang lebih kuat.

Jumlah anak pekerja di Filipina kembali menunjukkan tren peningkatan. Data terbaru dari Otoritas Statistik Filipina (PSA) mencatat bahwa pada 2025, sebanyak 868.540 anak berusia 5 hingga 17 tahun terpaksa bekerja, naik tipis 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 861.450 anak. Angka ini setara dengan 3,1 persen dari total populasi anak di negara tersebut, meningkat dari 2,7 persen pada 2024 meskipun masih di bawah rekor 3,5 persen pada 2023.
Mayoritas anak pekerja adalah laki-laki, mencapai 61,6 persen dari total. Sementara itu, kelompok usia 15 hingga 17 tahun mendominasi, menunjukkan bahwa remaja menjadi kelompok paling rentan untuk masuk ke pasar kerja informal. Para ekonom menilai lonjakan ini tidak terlepas dari tekanan ekonomi yang masih membelit rumah tangga miskin di Filipina, terutama akibat kenaikan biaya hidup dan dampak berkepanjangan pandemi Covid-19.
Fenomena anak pekerja bukanlah hal baru di Filipina, namun peningkatan ini menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi belum merata. Banyak keluarga miskin masih bergantung pada pendapatan tambahan dari anak-anak mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini diperparah oleh minimnya jaring pengaman sosial dan akses pendidikan yang terbatas di daerah-daerah terpencil.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, situasi serupa juga mengemuka. Meskipun data resmi menunjukkan penurunan angka pekerja anak dalam beberapa tahun terakhir, tekanan ekonomi akibat inflasi dan ketidakstabilan harga pangan masih mendorong sebagian anak untuk turun ke jalan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ketenagakerjaan telah menetapkan target penurunan pekerja anak hingga 0,5 persen pada 2025, namun realisasinya masih menghadapi tantangan, terutama di sektor pertanian dan informal.
Para pengamat mendesak pemerintah Filipina untuk memperkuat program perlindungan anak dan memperluas akses pendidikan gratis yang berkualitas. Tanpa intervensi yang signifikan, dikhawatirkan angka anak pekerja akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif. Pertanyaan besarnya, apakah negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mampu memutus lingkaran setan kemiskinan yang memaksa anak-anak kehilangan masa kecil mereka?



