Survei PwC: Jepang Paling Pesimis soal AI, Hanya 9% Perusahaan Puas
Baca dalam 60 detik
- Hanya 9% perusahaan Jepang menilai kinerja AI melampaui ekspektasi, terendah di antara enam negara maju.
- Amerika Serikat memimpin dengan 38% responden puas, sementara Indonesia belum masuk dalam survei namun relevan sebagai pasar adopsi AI.
- Pakar menyarankan perusahaan mengevaluasi keselarasan AI dengan visi bisnis, bukan sekadar efisiensi operasional.

Jepang menempati posisi paling buncit dalam survei adopsi generative AI di kalangan korporasi, dengan hanya 9% responden yang menyatakan teknologi tersebut melampaui harapan mereka. Temuan ini menjadi alarm bagi negara yang selama ini dikenal sebagai raksasa teknologi, sekaligus memberikan pelajaran bagi Indonesia yang tengah gencar mendorong transformasi digital.
Survei yang dirilis PwC Japan Group pada Juli 2025 ini melibatkan sekitar 3.000 manajer dan pengambil keputusan di perusahaan dengan omzet minimal 50 miliar yen (sekitar 310 juta dolar AS). Responden berasal dari enam negara: Jepang, Amerika Serikat, Inggris, China, Jerman, dan Korea Selatan. Hasilnya menunjukkan kontras tajam antara optimisme di negara Barat dan skeptisisme di Asia.
Di Amerika Serikat, 38% responden menilai kinerja AI "jauh di atas ekspektasi", disusul Inggris (32%), China (18%), Jerman (17%), dan Korea Selatan (11%). Sementara Jepang hanya 9%. Padahal, 47% perusahaan Jepang mengaku AI berjalan sesuai harapan—angka yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan negara lain (43-58%). Namun, kesenjangan muncul pada aspek dampak bisnis: di AS dan Inggris, lebih dari 70% penggiat AI melaporkan manfaat nyata bagi pelanggan dan karyawan, sedangkan di Jepang hanya 40%.
Menariknya, survei mengungkap bahwa perusahaan Jepang cenderung menggunakan AI untuk tugas-tugas rutin seperti meringkas notulensi rapat, mengirim email, atau menyusun laporan. Sementara pembuatan video, audio, dan kode program masih jarang. Hal ini menunjukkan adopsi AI di Jepang masih bersifat tambal sulam, bukan transformasi fundamental.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi cermin. Meski tidak masuk dalam survei, Indonesia tengah mengalami lonjakan penggunaan AI di sektor korporasi, terutama startup dan perusahaan teknologi. Namun, tanpa strategi yang jelas, risiko mengalami nasib serupa Jepang—adopsi tinggi tapi dampak rendah—cukup besar. Shimpei Miyoshi, eksekutif PwC Consulting, mengingatkan bahwa keselarasan AI dengan tujuan dan visi perusahaan adalah kunci. "Penting untuk mempertimbangkan apakah pengenalan AI selaras dengan tujuan dan visi perusahaan," ujarnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah perusahaan akan mengadopsi AI, melainkan sejauh mana AI mampu mengubah model bisnis secara fundamental. Jepang menunjukkan bahwa sekadar mengotomatisasi tugas lama tidak cukup; yang diperlukan adalah inovasi yang menciptakan nilai baru. Indonesia, yang masih dalam tahap awal adopsi, memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahan Jepang dan melompat ke pemanfaatan AI yang lebih strategis.



