Aktivis India Sonam Wangchuk Dirawat di RS Usai 20 Hari Mogok Makan Protes Sistem Ujian
Baca dalam 60 detik
- Polisi Delhi memindahkan paksa aktivis Sonam Wangchuk ke rumah sakit setelah mogok makan 20 hari menuntut perbaikan sistem ujian kedokteran.
- Aksi Wangchuk didukung ratusan mahasiswa dan partai oposisi, menyoroti kebocoran soal dan ketidakadilan dalam ujian masuk perguruan tinggi India.
- Kasus ini mengingatkan pada problem serupa di Indonesia, seperti kecurangan dalam ujian nasional dan seleksi masuk PTN yang kerap memicu protes.

Polisi Delhi pada Sabtu (18/7) memindahkan paksa aktivis lingkungan Sonam Wangchuk ke rumah sakit setelah ia menjalani mogok makan selama 20 hari sebagai bentuk protes terhadap sistem ujian kedokteran di India. Langkah ini diambil setelah pengadilan tinggi memerintahkan pemantauan kesehatan harian terhadap Wangchuk yang kondisi fisiknya terus memburuk.
Wangchuk, 59 tahun, memulai aksinya pada 28 Juni lalu dengan menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Ia menuding adanya ketidakberesan dalam ujian masuk fakultas kedokteran, termasuk kebocoran soal yang memicu kemarahan publik. Dalam beberapa pekan terakhir, aksinya di Jantar Mantar, New Delhi, diikuti oleh ratusan mahasiswa yang turut mendesak reformasi sistem pendidikan.
Kepolisian Delhi dalam pernyataannya menyebut pemindahan Wangchuk dilakukan atas perintah pengadilan tinggi dan saran medis. "Karena kondisi kesehatannya yang memburuk, ia dipindahkan ke rumah sakit untuk perawatan intensif," ujar seorang deputi komisioner polisi. Namun, proses pemindahan sempat diwarnai ketegangan saat para pendukung Wangchuk berusaha menghalangi.
Pengadilan Tinggi Delhi pada Kamis sebelumnya memerintahkan dokter pemerintah untuk memantau kesehatan Wangchuk setiap hari. Keputusan ini diambil setelah pengacara aktivis Rakesh Kumar Saini mengajukan petisi yang menyebut Wangchuk terancam jiwa jika tidak segera menghentikan mogok makannya. "Nyawa setiap warga negara sangat berharga. Segala intervensi medis yang diperlukan untuk menyelamatkan Sonam Wangchuk harus dilakukan," demikian bunyi perintah pengadilan.
Wangchuk dikenal luas sebagai insinyur yang merintis proyek konservasi air di Himalaya. Beberapa jam sebelum dipindahkan, ia sempat menyatakan keyakinannya bahwa gerakan kecil bisa menjatuhkan pemerintahan. "Gerakan kecil telah menjatuhkan banyak pemerintahan di India... dan kali ini menyangkut pendidikan," katanya.
Kemarahan terhadap sistem ujian di India bukan tanpa alasan. Bulan lalu, sebanyak 2,2 juta calon mahasiswa kedokteran mengikuti ujian ulang dengan pengamanan ketat setelah ujian sebelumnya dibatalkan akibat kebocoran soal. Insiden ini, ditambah dengan kekacauan penilaian ujian sekolah menengah, memicu gelombang protes mahasiswa di berbagai kota. Beberapa anggota partai oposisi menyatakan dukungannya terhadap Wangchuk dan para aktivis mahasiswa.
Kasus ini relevan bagi Indonesia, di mana sistem ujian nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi negeri kerap diwarnai kecurangan. Praktik jual beli soal, kebocoran kunci jawaban, hingga ketidakadilan akses pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah. Protes mahasiswa di India bisa menjadi cermin bagi Indonesia untuk terus mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan ujian.
Ke depan, nasib Wangchuk dan tuntutannya akan menjadi ujian bagi pemerintah India. Akankah tekanan publik mampu memaksa perubahan sistemik, atau justru berakhir dengan represi? Pertanyaan ini masih menggantung di tengah hiruk-pikuk politik pendidikan India.



