Aktivis India yang Mogok Makan 20 Hari Dibawa Paksa ke Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Sonam Wangchuk, aktivis pendidikan India, dievakuasi paksa oleh aparat setelah 20 hari mogok makan di Delhi.
- Aksi ini mendukung gerakan satir Cockroach Janta Party yang menuntut reformasi ujian setelah kebocoran soal.
- Pengadilan Tinggi Delhi memerintahkan perawatan medis, sementara tuntutan pengunduran diri menteri pendidikan belum direspons pemerintah.

Sonam Wangchuk, aktivis pendidikan asal India yang menjalani mogok makan selama 20 hari di Delhi, digiring paksa oleh aparat kepolisian dan paramiliter dari lokasi protes pada Sabtu pagi. Pria berusia 59 tahun itu dibawa ke rumah sakit pemerintah setelah kondisinya terus memburuk akibat hanya mengonsumsi air garam selama berminggu-minggu.
Wangchuk beraksi mendukung gerakan satir daring bernama Cockroach Janta Party (CJP) yang menuntut reformasi sistem ujian nasional India. Rencananya, para pendukung CJP akan menggelar pawai ke parlemen pada Senin pekan depan. Namun, langkah aparat menghentikan aksi Wangchuk secara paksa memicu kecaman dari kalangan oposisi dan aktivis masyarakat sipil.
Dalam video yang beredar, puluhan polisi dan personel paramiliter menyerbu panggung tempat Wangchuk berbaring, menutupinya dengan seprai, lalu membawanya ke ambulans yang melaju kencang. Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, yang mendampingi Wangchuk, mengaku tidak diberi tahu ke mana aktivis tersebut dibawa. Polisi kemudian menyatakan bahwa pemindahan itu dilakukan berdasarkan perintah pengadilan dan pertimbangan medis.
Wangchuk sebelumnya menolak menghentikan mogok makannya meski kondisi fisiknya terus melemah. "Saya lemah di luar, tapi kuat di dalam," ujarnya kepada massa beberapa hari lalu. Ia bahkan bergurau bahwa jika meninggal sebelum pawai, "arwahnya akan ikut serta". Namun, dengan dibawanya Wangchuk ke rumah sakit, partisipasinya dalam pawai Senin diragukan.
Gerakan CJP lahir pada Mei lalu sebagai protes satir terhadap kebocoran soal ujian masuk perguruan tinggi, termasuk ujian kedokteran yang dibatalkan awal bulan itu. Para pengunjuk rasa menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan bertanggung jawab dan mengundurkan diri. Pradhan, sebaliknya, menyebut pendukung CJP sebagai "tim B dari elemen pengganggu". Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi hingga kini belum merespons tuntutan tersebut.
Tekanan terhadap pemerintah semakin meningkat setelah mantan Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal mengunjungi Wangchuk pada Kamis. Dalam video yang dibagikan CJP, Kejriwal memohon kepada pemerintah untuk mendengarkan para mahasiswa dan Wangchuk. Ia bahkan menyarankan agar Wangchuk menggantikan Pradhan sebagai menteri pendidikan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam sistem ujian nasional. Kebocoran soal yang memicu krisis kepercayaan di India juga pernah terjadi di Indonesia, seperti pada ujian nasional 2012 dan 2013. Respons tegas pemerintah India terhadap aksi protesโdengan mengedepankan pendekatan hukum dan medisโbisa menjadi bahan perbandingan dalam menangani unjuk rasa serupa di Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah India akan bersedia berdialog dengan CJP atau justru semakin mengeras. Dengan kondisi Wangchuk yang kritis dan dukungan publik yang terus mengalir, tekanan terhadap Modi dan Pradhan diprediksi akan semakin besar. Sementara itu, nasib pawai ke parlemen masih menggantung.



