Korban Tewas Akibat Metanol di Laos: Pemilik Pabrik Minuman Keras Didakwa Ringan, Keluarga Kecewa
Baca dalam 60 detik
- Pemilik pabrik minuman keras di Laos didakwa dengan dua pasal ringan terkait kematian enam turis asing akibat metanol pada November 2024, dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.
- Pemerintah Denmark dan Australia menyatakan kekecewaan mendalam atas dakwaan yang dinilai tidak sebanding dengan tragedi, sementara keluarga korban menuntut keadilan yang lebih berat.
- Kasus ini menyoroti lemahnya penegakan hukum di Laos dan risiko metanol yang juga mengancam negara-negara seperti Indonesia, di mana insiden serupa kerap terjadi.

Enam bulan setelah tewasnya enam turis asing akibat keracunan metanol di Vang Vieng, Laos, proses hukum baru berjalan di tempat. Seorang pemilik pabrik minuman keras setempat resmi didakwa dengan dua tuduhan ringan—menjual makanan berbahaya bagi kesehatan dan menjalankan usaha ilegal—yang ancaman hukumannya hanya tiga bulan hingga empat tahun penjara. Keputusan ini memicu kemarahan keluarga korban dan tekanan diplomatik dari negara-negara terdampak.
Dua warga Denmark, Anne-Sofie Orkild Coyman (20) dan Freja Vennervald Sorensen (21), menjadi bagian dari enam korban yang meninggal setelah mengonsumsi minuman keras terkontaminasi metanol di Nana Backpacker Hostel pada November 2024. Korban lainnya adalah Bianca Jones dan Holly Morton-Bowles (keduanya 19 tahun) asal Australia, pengacara Inggris Simone White (28), serta warga AS James Louis Hutson (57).
Pemerintah Denmark, melalui Menteri Luar Negeri Lars Løkke Rasmussen, menyatakan kekecewaan mendalam. Rasmussen menilai dakwaan tersebut tidak mencerminkan keseriusan tragedi yang menghancurkan banyak keluarga. Meskipun ia memahami kesulitan pembuktian dalam kasus seperti ini, Rasmussen menegaskan bahwa hukuman yang terlalu ringan sulit diterima. Pemerintah Denmark kini berkoordinasi dengan keluarga korban dan negara-negara lain untuk menentukan langkah selanjutnya.
Australia juga bereaksi keras. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyebut dirinya "sangat frustrasi dan kecewa" karena otoritas Laos tidak mengenakan pasal terberat. Perdana Menteri Anthony Albanese bahkan mengirim utusan khusus ke Laos pada Jumat (17/7) untuk menyampaikan keberatan dan menuntut investigasi yang adil. Duta Besar Laos di Canberra juga dipanggil. Keluarga korban Australia, dalam konferensi pers, meluapkan kemarahan. "Seolah nyawa mereka tidak berarti," ujar Michelle Jones, ibu Bianca.
Keluarga Vennervald Sorensen mengaku dibiarkan dalam kegelapan sejak tragedi. Tidak ada autopsi pada jenazah putri mereka, dan surat kematian menyebut penyebab alami: serangan jantung. Padahal, kedua wanita muda itu telah berhati-hati selama perjalanan. Orang tua mereka baru mengetahui bahaya metanol setelah kejadian dan berharap kesadaran publik meningkat.
Metanol kerap dicampur ke dalam minuman di bar-bar nakal sebagai pengganti etanol yang lebih murah, atau muncul sebagai produk sampingan dari penyulingan rumahan yang buruk. Di Laos, negara komunis satu partai yang miskin dan sangat mengontrol informasi, kasus ini menjadi ujian transparansi. Otoritas Laos hanya membuka konferensi pers terbatas untuk media lokal dan kedutaan asing, menolak akses Associated Press.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat. Menurut Doctors Without Borders, Indonesia termasuk negara dengan insiden metanol tertinggi di dunia. Kasus serupa kerap terjadi di bar-bar murah atau konsumsi minuman oplosan. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum membuat risiko ini terus mengintai, baik turis maupun warga lokal. Pertanyaan besarnya: akankah Laos—dan negara-negara lain—belajar dari tragedi ini, atau dibiarkan terulang kembali?



